Alissa Wahid: PIP Jadi Nilai Esensial dalam Peta Jalan Gerakan Nasional Revolusi Mental

Jakarta:- Alissa Wahid yang merupakan anggota Tim Ahli Gugus Tugas Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) mengatakan bahwa Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) menjadi bagian penting dari tujuan dibuatnya Peta Jalan Gerakan Nasional Revolusi Mental sesuai mandat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kamis, (22/4).

"Kami membacanya begini, jadi ada nilai esensial yaitu nilai kebangsaan melalui peran PIP dan nilai strategis-instrumental melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental.", ungkapnya.

Perlu diketahui GNRM menjadi agenda utama Presiden Joko Widodo dalam membangun karakter bangsa melalui sebuah perjuangan dalam menciptakan cara pandang, cara pikir, sikap, perilaku, dan cara kerja bangsa Indonesia yang mengacu pada nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong berdasarkan Pancasila yang berorientasi pada kemajuan.

"Jika sebelumnya revolusi mental dianggap sebagai gerakan mengubah semuanya, maka saat ini pendekatannya kita ganti melalui penguatan nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong, supaya lebih mudah dipahami oleh lapisan-lapisan yang akan mengerjakan ini di bawah. Jadi secara pengamalan untuk diri sendiri itu integritas, untuk kerja itu etos kerja, dan untuk kehidupan bersama itu gotong royong," ujar Alissa yang juga menjadi Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian.

Sementara dalam Instruksi Presiden No.12 Tahun 2016 menyebutkan ada lima gerakan pokok dari GNRM yaitu Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu.

Pertama, Gerakan Indonesia Melayani berfokus pada peningkatan kapasitas SDM Aparatur Sipil Negara, peningkatan kedisiplinan, penyempurnaan standar pelayanan (e-government) hingga penerapan sistem penghargaan dan sanksi beserta keteladanan pimpinan.

Kedua, Gerakan Indonesia Bersih mengacu pada peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan keluarga, satuan pendidikan, satuan kerja dan komunitas dalam bentuk pengelolaan sampah terpadu hingga penegakan hukum di bidang kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Ketiga, Gerakan Indonesia Tertib mengarah pada penggunaan ruang publik yang tertib, peningkatan sarana dan prasarana ruang publik, serta penumbuhan sikap ramah dan bebas kekerasan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Keempat, Gerakan Indonesia Mandiri bertautan pada upaya dalam mendukung tercapainya kemandirian bangsa di berbagai sektor, mulai dari peran koperasi dan UMKM hingga perlindungan terhadap Hak Kekayaan Intelektual.

Kelima, Gerakan Indonesia Bersatu difokuskan untuk meningkatkan perilaku yang mendukung kehidupan demokrasi Pancasila, hingga peningkatan peran lembaga agama, keluarga, dan komunitas masyarakat untuk menyemai nilai-nilai budi pekerti, toleransi, dan hidup rukun.

Jika lima gerakan ini terimplementasi dengan baik dan didukung secara sinergis, sangat mungkin cita-cita Indonesia Emas 2045 akan mampu memberikan sumbangsih dalam mencetak manusia Pancasilais yang unggul, tutup Alissa dalam rapat koordinasi dengan Kepala BPIP dan Para Pejabat di lingkungan BPIP. (FAW)