Rektor UNS: Gerakan Moderasi Beragama Sebagai Jalan Pertahankan Pancasila


Jakarta:- Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Jamal Wiwoho menekankan perlunya langkah strategis untuk mempertahakan nilai-nilai pancasila dari ancaman gerakan radikalisme agama. Salah satunya, dengan menggencakan gerakan moderasi islam.
 
"Langkah strategis untuk mempertahankan nilai-nilai Pancasila dari ancaman gerakan radikalisme agama adalah mengarus-utamakan gerakan moderasi islam secara luas di masyarakat Indonesia," kata Jamal dalam webinar 'Moderasi Islam Untuk Mengukuhkan UNS Sebagai Kampus Pelopor dan  Benteng Pancasila', Selasa, 13 Juli 2021.
 
Ia menjelaskan, moderasi islam atau islam moderat adalah paradigma terhadap pemahaman keislaman yang menjunjung tinggi nilai-nilai tasamuh (toleransi). Islam moderat juga menjunjung tinggi nilah ramah, plural, dan ukhuwah.
 
"Jangan lupa, bahwa sejatinya perbedaan dibutuhkan untuk membuat dunia tetap berjalan. Dan bukan alasan untuk saling menghentikan," ungkapnya.
 
Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) itu mengatakan, menjaga dan melestarikan nilai-nilai Pancasila bukanlah perkara yang mudah. Jika melihat sejarah perjalanan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia, maka sejumlah upaya merongrong Pancasila pernah dilakukan oleh sejumlah warga negara Indonesia sendiri. 
 
Sebut saja pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yaitu gerakan kelompok islam di Indonesia yang bertujuan untuk mendirikan negara islam (Darul Islam) di Indonesia. Melalui pimpinan tertingginya, Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo, DI/TII memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia di Jawa Barat pada 1949. 
 
Lalu, kata Jamal, pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965 yang menewaskan tujuh pahlawan revolusi. Upaya-upaya mengganti Pancasila sebagai dasar negara di masa lalu tersebut dapat diredam dan membuktikan adanya kesaktian Pancasila.
 
Di tengah era perubahan saat ini, kata dia, berbagai ancaman tersebut masih dirasakan muncul di beberapa masyarakat Indonesia. Bahkan, sudah mengarah ke dalam bentuk gerakan radikalisme agama.
 
Mengutip survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT,) sebanyak 85 persen milenial rentan terpapar radikalisme. Hal ini lantaran belum tumbuhnya kesadaran sosial dan kesadaran hukum kaum milenial dalam bermedia sosial. 
 
"Selain itu, literasi dan narasi Islam Rahmatanlil Alamin di media sosial juga belum dirasakan dampaknya bagi masyarakat," ujarnya. (AGA/ER)