Belajar Pancasila melalui Dongeng dan Permainan Tradisional


(Jakarta, 12/05/2020) – “Dongeng dan permainan merupakan metode pembelajaran yang memiliki fungsi untuk memberikan hiburan dan sarana untuk mewariskan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui dongeng dan permainan (tradisional) kita dapat memahami nilai-nilai Pancasila sambil bermain. Dan di tengah pandemik Covid-19, dongeng dan permainan dapat dilakukan di rumah bersama keluarga,” demikian disampaikan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Yudian Wahyudi, pada pembukaan kegiatan daring “Pancasila dalam tindakan: Pembelajaran Pancasila melalui dongeng dan permainan tradisional,” yang berlangsung selama dua hari (12-13 Mei 2020). Kegiatan  diselenggarakan oleh BPIP berkerjasama dengan Komunitas Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) dan sekolah Global Sevilla, Jakarta.
Bertindak sebagai narasumber adalah Ketua Umum KPOTI, Dr. Zaini dan Staf Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi BPIP, Martha. Dalam kegiatan yang merupakan perwujudan dari Pancasila dalam tindakan, kedua narsumber menyampaikan tentang dongeng tentang nilai-nilai Pancasila dan memperkenalkan empat permainan tradisional yaitu Sarungan, Bola Bekel/Beklen, Papancakan dan Teuku Umar Spel. Bukan hanya diperkenalkan, tetapi juga dipraktekkan secara langsung oleh para siswa sekolah Global Sevilla dari kediaman masing-masing.
Dalam penjelasannya terkait masing-masing permainan, Zaini menyampaikan bahwa melalui permainan sarung kita diajarkan untuk melatih keseimbangan, merakyat, dan bergotong-royong. Permainan ini sangat erat dengan nilai-nilai keadilan sosial seperti bunyi sila ke-5 Pancasila.
Dalam permainan Bola Bekel, kita dilatih berpikir strategis, tangkas, jeli dan jujur. Hal ini sejalan dengan nilai Pancasila sila ke-2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan ke sila 3 Persatuan Indonesia..
Adapun mengenai permainan Papancakan, di dunia dikenal dengan nama Balancing Rock, menurut Zaini permainan ini melatih musyawarah, empati, fokus dan kerjasama. Nilai Pancasila sila ke-4 Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
“Adik-adik, tau kah kalian Teuku Umar Spel? Spel dalam Bahasa Belanda artinya permainan, jadi Teuku Umar Spel adalah Permainan Teuku Umar. Pada tahun 1886 Belanda menggunakan permainan ini untuk mempengaruhi rakyat Indonesia dengan menjadikan Teuku Umar sebagai musuh bersama yang harus disingkirkan,” begitu kata Zaini.
“Melalui permainan ini kita dilatih untuk cinta tanah air, berani, dan memiliki nilai kesatuan seperti sila Pancasila sila ke-3 Persatuan Indonesia adalah utuh dan tidak terpecah-belah, bersatu adalah salah satu cara agar negara kita menjadi bangsa yang kuat. Untuk bisa memenangkan permainan ini maka harus saling tolong-menolong dan menjaga persatuan antar pion yang dimainkan,” tambah Zaini.
“Teuku Umar Spel adalah permainan mirip catur yang juga disebut damdas. Permainan dimainkan oleh dua orang, bisa laki-laki atau perempuan, dengan memanfaatkan dua jenis pion yang berbeda serta papan berpetak sebagai sarana bermainnya. Namun, tidak seperti catur yang memiliki pion dengan bentuk dan langkah yang berbeda, pion pada permainan damdas umumnya hanya berupa dua jenis kerikil, batu, atau biji-bijian dengan warna serta bentuk berbeda, sehingga dapat dibedakan antara pion pemain yang satu dengan lawannya,” jelas Zaini lebih lanjut.
Dengan penuh antusias para siswa mendengarkan dongeng Pancasila yang disampaikan Martha atau yang akrab dipanggil Kak Martha. Demikian pula halnya ketika praktek permainan tradisional yang dilakukan dari rumah masing-masing dibimbing Zaini, dengan penuh antrusias para siswa mempraktekkannya, bahkan beberapa siswa melibatkan orang tuanya masing-masing untuk bermain.
Menanggapi pelaksanaan kegiatan mendongeng dan praktek permainan tradisional, Deputi bidang Pengendalian dan Evaluasi Dr. Rima Agristina menyampaikan bahwa melalui kegiatan semacam ini diharapkan bahwa para siswa sekolah dapat mengenal dan memahami nilai-nilai Pancasila dengan cara yang menyenangkan. Bukan hanya itu, melalui kegiatan ini BPIP berkeinginan untuk mengenalkan modul-modul pembelajaran Pancasila melalui dongeng dan permainan tradisional yang sudah disusunnya. Harapannya modul-modul tersebut dapat diterima masyarakat. Selanjutnya dipelajari dan diterapkan serta dikembangkan sesuai dengan kearifan lokal di setiap sekolah di seluruh Indonesia.  
Dongeng dan permainan tradisional dipilih karena sifatnya yang lentur untuk digunakan metode pembelajaran. Setiap daerah memiliki dongeng-dongeng yang sarat dengan kebaikan dan kearifan lokal yang mengandung niulai-nilai Pancasila. Demikian pula dengan permainan tradisional jumlahnya dipoerkiran sekitar 2.600 permainan. (Dir.SKJ)