Diaspora RI di Belanda Perlu Ciptakan Kemajuan IPTEK melalui Ruang Kerjasama Ilmiah


Jakarta:- Untuk mengisi dan memaksimalkan kerjasama yang telah dibangun oleh Pemerintah Indonesia dan Belanda. Para diaspora RI di Belanda perlu didorong untuk membuka sebanyak-banyaknya ruang kerjasama ilmiah dalam mengembangkan IPTEK untuk mengatasi problem-problem sosial-ekonomi di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Kepala BPIP RI, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D saat menjadi pembicara kunci pada diskusi kebangsaan dengan tema "Pancasila dalam Konteks Masa Kini" yang diselenggarakan oleh KBRI Den Haag, Belanda secara virtual, Kamis, (17/6).

Profesor Yudian menekankan bahwa peneguhan komitmen kebangsaan masyarakat Indonesia dalam konteks global harus dimaknai secara komprehensif, yaitu dengan mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang mampu menguatkan identitas kebangsaan kita yang berlandaskan ideologi Pancasila dan UUD 1945.

"Mengutip pidato Presiden RI, Ir. Joko Widodo pada Upacara Harlah Pancasila 1 Juni 2021, setidaknya ada empat poin penting yang harus diperhatikan, yaitu globalisasi dan interaksi tidak serta merta meningkatkan kesamaan pandangan, adanya disrupsi teknologi, hadirnya rivalitas pandangan politik, dan munculnya ideologi transnasional radikal yang semakin mewabah", ungkap Profesor Yudian.

Belajar dari empat poin penting itu, kita sebagai diaspora RI di Belanda perlu untuk mengencangkan kembali melalui misi keragaman, perdamaian, dan pembangunan yang dicetuskan oleh founding fathers kita terdahulu.

"Bahwa Indonesia memiliki tiga misi, yaitu: misi statis yang merupakan misi seluruh Warga Negara Indonesia dalam menjaga eksistensi NKRI, selanjutnya misi dinamis yaitu misi kita untuk mendorong pembangunan baik pembangunan infrastruktur maupun sdm guna mendorong kesejahteraan, terakhir misi etis yang merupakan misi tertinggi bagi bangsa ini untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia", tegas Profesor Yudian yang disimak puluhan diaspora RI di Belanda secara virtual.

Untuk itu Kepala BPIP RI mendorong adanya peran-peran strategis para diaspora RI di Belanda dalam mengukuhkan kembali hubungan bilateral yang sudah terjalin lama antara Pemerintah Indonesia dan Belanda.

"Meskipun dalam faktanya Pemerintah Indonesia dan Belanda telah mencapai tingkatan Comprehensive Partnership, namun bidang seperti pendidikan perlu untuk diperdalam lagi, utamanya terkait dengan ilmu sejarah dimana banyak manuskrip-manuskrip kuno bangsa ini yang tersimpan di Belanda serta ilmu pertanian, peternakan dan manajemen air yang menjadi keunggulan Belanda sehingga dapat mencapai negara kedua sebagai pengekspor pangan terbesar di dunia.", Tutupnya.

Senada dengan hal tersebut, Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Diplomat Mayerfas menekankan bahwa evolusi pendidikan menjadi latar belakang kemajuan zaman.

"Saat ini kita memegang peran penting untuk mentransfer nilai-nilai Pancasila, terutama dalam menyikapi evolusi pendidikan dan kemajuan zaman yang kita alami sekarang. Untuk itulah kita perlu menerapkan perilaku yang pancasilais dalam kehidupan sehari-hari seperti toleransi, tepa selera, saling membantu, berempati terhadap sesama dan sebagainya", ungkap Dubes Mayerfas yang sekaligus pernah menjabat sebagai Sekjen Kemenlu RI.

Dubes Mayerfas juga berharap, dari penerapan nilai-nilai Pancasila itu kita mampu untuk menjaga dan memperkenalkan jati diri bangsa Indonesia kepada masyarakat dunia.

Sementara itu, diskusi Kebangsaan ini dihadiri oleh Andang Binawan, Dosen STF Driyarkara Jakarta, Hilmi Kartasasmita, Co-founder Global Indonesia Professionals' Association, Reiffel Rezki Riandhana, Sekjen PPI Belanda serta puluhan diaspora Indonesia yang ada di Belanda. (FAW)