Medsos Sarana Menanamkan Nilai Pancasila Bukan Penghancur Martabat Manusia


Jakarta (09/06/2020) - Kasus penyebaran berita hoax di Indonesia kian hari kian masif terjadi.
Data yang dihimpun oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menemukan bahwa terdapat 800.000 situs penyebar berita hoax dan pada tahun 2017 Kominfo sudah memblokir sedikitnya 6000 situs penyebar berita haloax di Indonesia.
Baru-baru ini tengah beredar kabar foto di platform media sosial Facebook yang mengklaim bahwa Presiden Joko Widodo mengenakan sepatu di dalam masjid.
Bahkan disebutkan dalam klaim tersebut, Jokowi sedang meninjau Masjid Baiturrahim di kompleks Istana Kepresidenan sebagai persiapan menuju tatanan normal baru yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Setelah ditelusuri informasi tersebut merupakan hoaks.
Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo angkat bicara mengenai permasalahan hoax ini. Menurutnya maraknya berita hoax saat ini menunjukan etika dalam media sosial dalam berpikir, bertindak, dan berelasi.
"Marak berita hoax dengan menggunakan rekayasa foto dan data yang tidak berdasarkan informasi yang tidak tepat menunjukan etika media sosial tidak jadikan acuan  berpikir , bertindak, berelasi,"  jelas Benny.
Benny menekankan bahwa Media sosial seharusnya menjadi sarana memajukakan nilai kemanusian untuk mempererat persaudaraan dan berbagi ide dan gagasan.
Selain itu menurutnya Keutaman mengguna media sosial harus mengedepan etika kepantasan publik dalam menyampaikan pesan atau gagasan hendaknya mengedapan fakta, data , informasi yang benar.
Bukan malah sebaliknya menebarkan kebencian, merusakan persatuan maka dibutuhkan kesadaran para mengguna media sosial mengedapan nilai nilai moralitas publik.
"Mengembalikan kembali media sosial sebagai sarana memajukkan kemanusian bukan sebagai alat menghancurkan martabat kemanusian," tegas Benny.
Keutaman Pancasila  ketika para pengguna media sosial memiliki tangung jawab menjaga persatuan bangsa dan tidak menerbakan virus kebencian  yang berbau SARA.
"Insan mengamalkan Pancasila memiliki pengetahuan Takut akan Tuhan  menjadi cara berpikir , bertindak , berelasi dalam menyampaikan pendapat nya dan memberi informasi ke publik lewat media sosial," tutup Benny.