Safari Ramadhan: BPIP Jalin Komunikasi Erat dengan Matakin


Jakarta:- Badan Pembinaan Ideologi melanjutkan Safari Ramadhan tahun ini dengan bersilaturrahmi kepada Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) di Kelenteng Kong Miao, komplek TMII selasa (4/5).

Pada kesempatan ini, Kepala BPIP menyinggung soal peran organisasi keagamaan seperti Matakin yang aktif dalam menjaga toleransi dan persatuan, sehingga segala bentuk konflik keagamaan bisa diredam dan diminimalisir.

Kepala BPIP menandaskan jika perbedaan suku, bahasa, dan agama adalah bukti nyata bagaimana bangsa ini diberikan anugerah oleh Tuhan yang begitu luar biasa. “Apalagi jika keberagaman ini diikat oleh suatu simpul, satu ikatan yang membuat beragam macam bentuk pandangan, sifat, perilaku di dalamnya dapat bersinergis secara harmonis menuju cita-cita satu yaitu mencapai bangsa yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila”, ungkapnya.

Secara moral tugas manusia dalam kehidupan yang terpenting adalah, mengoptimalkan potensi positifnya dengan meninggalkan negatifnya sampe titik keseimbangan, itu yang disebut keadilan. Sehingga keadilan itu hukum terbesar yang mengatur kehidupan fisik dan sosial.

“Makanya semua nabi tugas utamanya adalah menegakkan keadilan,” tegas Profesor Yudian saat memberitakan contoh sejarah keadilan dalam konsep kenabian.

Paradigma tersebut lah yang beriringan dengan konsep Pancasila, bagaimana Pancasila bisa dikatakan religius sekaligus ber-perikemanusiaan, sakral juga profan sekaligus, karena nilai-nilai yang terkandung di lima sila tersebut dapat dengan mudah ditemukan pada kitab suci di ke-enam agama resmi di Indonesia, tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Kerohanian (Matakin) Ws Budi Santoso Tanuwibowo mengucapkan terimakasih sekaligus mengapresiasi atas kedatangan BPIP di Kelenteng Kong Miao, dan menyatakan sikap siap mendukung berbagai program BPIP.

Ws Budi Santoso Tanuwibowo mengatakan nilai Pancasila sudah senafas dan seirama dengan ajaran Konghucu, terutama menyangkut nilai-nilai penting seperti keadilan dan persatuan. "Jika ada keadilan tidak akan ada lagi persoalan persatuan dan kemiskinan. Karena itu, menjadi pemeluk Konghucu yang baik pasti menjadi seorang Pancasila yang baik," tandasnya.

Selain mendiskusikan persamaan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila dan Konghucu, Ws Budi mengharapkan BPIP bisa terus bekerjasama erat dengan Matakin melalui cara-cara yang lebih kreatif dan membumi seperti melalui musik, teater, maupun pertunjukan seni lainnya yang lebih mudah untuk diterima masyarakat dengan senang sebagai bentuk edukasi sekaligus hiburan. (FAW)