Kominfo Gelorakan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Membina Kebersamaan Dan Kepedulian


Solo:- Sosialisasi dapat dipahami sebagai kegiatan komunikasi, ditujukan untuk membentuk kesadaran, mempengaruhi persepsi dan sikap individu, kelompok, atau masyarakat. Demikian disampaikan Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Wiryanta.
 
Saat ini, menurut Wiryanta, perubahan informasi yang terjadi di masyarakat tidak lagi dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam, melainkan sudah berada dalam hitungan skala menit dan detik. Sementara dari aspek media yang ada memiliki sifat dasar bisa memperluas isolasi moral dari lingkungan dalam waktu bersamaan juga mengasingkan orang dari realitas personal.
 
"Untuk memaksimalkan peluang sukses kegiatan komunikasi, pemanfaatan media bisa dipadukan dengan komunikasi langsung dan pemanfaatan saluran komunikasi yang berbasis pada komunitas," tambahnya.
 
Namun demikian, lanjut Wiryanta, waktu pelaksanaan sosialisasi bukan hanya sesaat. Bahkan, membutuhkan hampir seumur hidup. Oleh karena itu, tujuan sosialisasi melalui media bukan hanya memberikan pemahaman akan karakter bangsa, namun juga diarahkan untuk memberikan pemahaman akan konsekuensi tindakan dan kemampuan memilih secara rasional dalam setiap konteks hubungan sosial.
 
"Sosialisasi juga diarahkan untuk memberikan pemahaman akan kemampuan melakukan penilaian antara baik dan buruk dan mengontrol sikap dan perilaku agar sejalan dengan nilai-nilai karakter bangsa," jelasnya.
 
Dialog dilaksanakan dengan tujuan memberikan pengetahuan secara holistik dan komprehensif  tentang nilai nilai Pancasila kepada masyarakat, sehingga nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak pudar ditelan dan tergerus  era modernisasi.
 
Acara tersebut dilaksanakan Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kominfo. Dialog juga menghadirkan narasumber akademisi FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Sudarsono.
 
Menurutnya, perlu diupayakan peningkatan pemahaman, penghayatan, implementasi, dan pelestarian akan wawasan kebangsaan sebagaimana tersirat dan tersirat dalam falsafah bangsa seperti “Bhineka Tunggal Ika”, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”,  maupun kearifan-kearifan lokal seperti kekeluargaan dan persaudaraan sejati antar suku, ras, golongan, daerah dan agama,  kerukunan dan toleransi antarumat beragama maupun suku, ras dan golongan.
 
Pada acara dialog interaktif itu turut diungkapkan pula ada tiga sifat alami media berkaitan dengan konstruksi pendidikan karakter bangsa. Pertama, sebagai intensifier, yakni memunculkan atau mempertajam konten pendidikan karakter bangsa. Dengan posisi sebagai intensifier, media bisa menyebarluaskan informasi pendidikan karakter bangsa sehingga menjadi perhatian bagi khalayak sasaran.
 
Kedua, sebagai diminisher, yakni media menenggelamkan beragam konten pendidikan karakter bangsa. Secara sengaja media meniadakan pendidikan karakter bangsa, terutama bila menyangkut kepentingan ideologi atau pragmatis media.
 
Ketiga, media menjadi pengarah, yakni media menjadi mediator dengan menampilkan pendidikan karakter bangsa dari berbagai perspektif serta mengarahkan pihak-pihak yang berkepentingan pada upaya dukungan bagi pendidikan karakter bangsa. (BM)