Gotong Royong; Satu Jalan Hadapi Pandemi Covid-19


Jakarta - Pandemi Covid-19 (virus corona) masih melanda Indonesia. Di tengah pandemi ini, kreativitas anak bangsa terpanggil untuk menciptakan karya seni yang indah. Dewa Budjana salah satu anak bangsa yang menciptakan karya di tengah Pandemi Covid-19.
Melalui syair dan alunan musik lagu berjudul ‘Satu Jalan’, tersirat pesan kepada seluruh elemen Bangsa Indonesia untuk kembali bersatu. Satu Jalan untuk menghadapi Pandemi Covid-19, kembali saling mencinta dan kembali menjalin persaudaraan sesama anak bangsa.
Lagu itu mengingatkan kita kepada karakter asli Bangsa Indonesia, saling mencinta dan bersaudara. Energi-energi positif yang ada di antara anak bangsa, dipersatukan untuk menghadapi krisis.
Marilah kita menyingkirkan sekat-sekat di antara kita, sekat perbedaan politik, perbedaan agama, perbedaan suku, ras dan golongan. Saatnya kita bersatu, bersama-sama bergotong royong menghadapi pandemi covid-19.
Masyarakat sudah membuktikan. Di dalam kondisi sulit seperti ini, mereka masih bisa menunjukan kesetiakawanan bergotong royong saling membantu satu sama lain. Pejabat-pejabat negara dan elite politik di negeri ini, sebaiknya juga mengikuti tindakan yang telah ditunjukan oleh masyarakat kita.
Diperlukan kesadaran dari seluruh elemen bangsa untuk mengatasi atau menghentikan penyebaran covid-19 ini. Pemerintah telah menetapkan sejumlah aturan, salah satunya adalah larangan mudik. Sebagai satu kesatuan persaudaraan, masyarakat seyogyanya mengikuti ketetapan larangan mudik itu.
Pemerintah menginstruksikan untuk menggunakan masker, tetap di rumah, juga Para Pemuka Agama telah menginstruksikan untuk ibadah dari rumah, rasa kesetiakawanan dan persaudaraan harus kita wujudkan dengan mengikuti himbauan yang telah ditetapkan. Pemerintah dan Pemuka Agama adalah saudara kita, mereka menetapkan suatu kebijakan atas dasar cinta untuk melindungi masyarakat.
Seperti syair dalam lagu ciptaan Dewa Budjana itu, hanya ada satu jalan. Jalan itu adalah kebersamaan dalam bahasa kasih yang sejati, kita bersama memupuk rasa solidaritas. Lalu diwujudkan dengan saling berbagi kepada sesama saudara sebangsa dan setanah air, seperti: berbagi makanan, sembako, dan menggerakan ekonomi masyarakat sektor informal. Salah satu contoh menggerakan ekonomi masyarakat adalah dengan membeli produk UMKM.
Gerakan solidaritas berbagi itu bisa dimulai dari komunitas yang paling basic, dan kemudian menjadi satu gerak bersama dalam komunitas berbagi di tingkat RT dan RW. Dari komunitas terkecil itu, kemudian bisa terpupuk menjadi gerakan solidaritas nasional.
Hanya satu jalan, kembali ke Roh Bangsa Indonesia, yakni Gotong Royong. Gotong Royong yang diwujudkan dalam bantu binantu, dan istilah yang mengelegar di langit Jakarta pada saat Bung Karno mengucapkan “Holopis Kuntul Baris” di hadapan Pimpinan dan Peserta Sidang BPPUPK 1 Juni 1945.
Itulah satu jalan bagi Bangsa Indonesia dalam menghadapi dan melawan pandemi covid-19 dan dampak lain yang ditimbulkan olehnya! (Ams)