BPIP Budayakan Pancasila Untuk Milenial


Bogor :- Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) melakukan kegiatan Penyusunan Kebijakan Teknis Inovasi Pembudayaan Ideologi Pancasila di Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/11). Dalam kegiatan tersebut turut hadir Dewan Pengarah BPIP Wisnu Bawa Tenaya, Staf Khusus BPIP Romo Benny Susetyo, Iman Hasiholan  Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Lia Kian Staf Khusus BPIP dan Direktur Pembudayaan Irene Camelyn Sinaga, AP., M.Pd.

Staf Khusus BPIP Romo Benny Susetyo mengatakan, saat ini anak muda harus menjadi penatar penyebaran berkehidupan Pancasila. Menurutnya, selama ini peran milenial belum sepenuhnya digunakan untuk membuat hal yang kreatif agar milenial lainnya bisa menyebarkan Pancasila dalam kehidupan kesehariannya.

“Anak muda itu sebagai penatar ke publik. Agar Pancasila di kalangan milenial bisa menjadi sebuah prestasi bagi mereka dan juga Bangsa,”jelasnya.

Sementara itu, Budayawan Ngatawi Al Zastrouw mengatakan, Reaktualisasi dari sejarah terdahulu tidak boleh dihilangkan dan bukan hanya sekedar pembahasan perjalanan sejarah. Menurutnya, penyampaian sejarah terhadap anak muda harus dikemas dengan gaya yang milenal dan tidak membosankan.

“Reaktualisasi dari sejarah, bukan sekedar pembahasan perjalanan sejarah agar tidak terlihat bosan untuk generasi muda. Narasi antara milenial dengan BPIP saat ini yang masih dikembangkan tentang Pancasila kepada kaum milenial, agar bisa diterima anak muda dan membumikan Pancasila dengan gayanya sendiri,”Jelasnya.

Hadir sebagai narasumber, Arie Keriting mengatakan, Ideologi Pancasila saat ini terjepit dengan ideologi yang baru, sehingga penyampaian inti dari Pancasila menjadi hilang terutama terhadap kaum milenial.

“ Secara psikologis Pancasila menjadikan beban jika dijadikan hukuman sosial. Ideologi pancasila terjepit dengan ideologi yang baru, secara tidak langsung Pancasila story telling-nya menjadi hilang”Ucapnya.

Senada dengan Arie Keriting, Ronald Surapradja mengatakan, Pancasila saat ini masih dipertanyakan kebinekaan. Menurutnya lebih baik Pemerintah bisa fokus menyelesaikan permasalahan bangsa ini yang membedakan besar menyamakan yang kecil.

“Pancasila di jaman sekarang itu yang dipertanyakan kebhinekaan, lebih baik fokus kebinekaan dan permasalahan bangsa ini membedakan yang besar menyamakan yang kecil,”ucapnya. (BM)