Yudian Wahyudi, Melawan HTI Sampai Polemik Ormas


Sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi cukup dikenal sebagai penjaga Pancasila dari serangan ideolgi-ideologi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang melekat di tubuh Pancasila. Sebagai mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta Yudian sangat getol memerangi Hizbut Tahrir di kampus-kampus dan gerakan Islam yang dianggap radikal.

Cerita Yudian Wahyudi, pernah sekali bendera HTI dikibarkan di kampusnya sewaktu masih liburan. Menurutnya tindakan tersebut sebagai bentuk kudeta yang ingin dilakukan oleh kelompok HTI terhadap pemerintah. Semangat Yudian ingin mematahkan semua argumentasi HTI, karena untuk mematikan sampai ke akar-akarnya. Menurutnya, pemerintah harus memberangus dari wacana khilafah yang ingin diusung di negara Indonesia.

Perlawanan terhadap HTI sudah dilakukan, baik melalui jalur konstitusi hukum yang sah hingga perlawanan wacana sejarah khilafaisme secara kultural. Penyebaran ideologi yang sesat, sejarah yang asal-asalan. Termasuk akhir-akhir ini ketika HTI meluncurkan film dokumenter palsu berjudul “Jejak Khilafah di Nusantara” yang mengandung polemik di masyarakat yang telah diputar di kanal-kanal YouTube pasca launching-nya pada tanggal 20 Agustus 2020 lalu.

Wacana Yudian Wahyudi untuk memerangi HTI harus mempunyai kepanjangan tangan yang mampu terus menyeimbangi jihad wacana-wacana yang digaungkan oleh HTI. Jika HTI menulis buku kita menulis buku, jika HTI membuat flim kita membuat film. Jika HTI berceramah di masjid-masjid ke kampus-kampus, kita juga harus sebaliknya, lebih gencar dan lebih massif. Maka memerangi gerakan dingin HTI harus berjalan dengan seimbang dan beriringan.

Kenapa harus HTI yang dihantam, dibasmi, dan diperangi? Secara sederhana Yudian Wahyudi memaparkan dengan teoritis, meminjam dari kaidah fiqih “sesuatu yang tidak bisa dicapai secara keseluruhan maka jangan ditinggalkan keseluruhan”. Karena HTI tidak bisa dijadikan konsep bernegara, kata Yudian, mengambil salah satunya, yaitu menggunakan ideologi Pancasila. Secara teoretis ideologi sesat khilafah akan memunculkan kemudaratan yang baru bagi Indonesia.

Khilafah Ideologi Impor

Sebagai anak tentara Yudian Wahyudi memiliki jiwa untuk membela bangsa yang diwarisi oleh orang tuanya. Meski dengan jalur yang berbeda akan tetapi spirit itu tetap tampak dalam dirinya. Pandangan Yudian terkait dengan khilafah di Indonesia sebagaimana yang dilansir dari Media Indonesia (15/09/19) menyebutnya sebagia produk impor yang “tidak ada tempak bagi Khilafah di Indonesia”, alasannya sangat simple, karena para pengikut tidak paham dengan khilafah yang dimaksud, para anggota yang bergabung tidak pernah belajar tata negara yang benar “mereka tidak belajar ilmu hukum Indonesia, dan tidak mengerti konsekuwensi dari perbuatan yang mereka lakukan,” katanya.

Bagaimana bisa mereka tahu bahwa, perbuatannya bisa merugikan terhadap negara sedangkan secara terang benderang mereka tidak paham dengan maksud yang ingin dibangun. Ambiguitas tersebut membuat HTI sama halnya dengan melakukan bunuh diri.

Selain itu, HTI sering identik dengan kelompok Islam yang dekat dengan gerakan Islam garis keras atau radikal secara ideologis. Pilihan tersebut akan selalu berhadap-hadapan dengan organisasi Muslim arus utama Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, serta komunitas Sufi di Indonesia. Maka dengan antusias organisasi ini akan melawan dan mengambil sikap atas setiap organisasi yang intoleran.

HTI dan Salafi laiknya seperti benalu yang ditakuti, sebagai ideologi impor yang berbahaya dari Timur Tengah, yang mampu menumbuhkan konflik di Indonesia. Misalkan aktivis NU dan anggota Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Muhammad Guntur Romli, sering mengatakan bahwa muslim konservatif seperti HTI ingin mengubah wajah Indonesia menjadi Suriah berikutnya.

Guntur sama seperti Yudian Wahyudi, ia ingin mendorong pemerintah, tidak tanggung-tanggung untuk memenjarakan membumi hanguskan HTI dari bumi Nusantara melalui alibi apapun. Tanpa ada inisiatif dari pihak yang berwenang delik masalah ini akan terus berlarut larut seperti bola salju yang menggelinding.

HTI dan Ormas yang Berbahaya

Yudian Wahyudi menilai beberapa organisasi yang berbahaya di Indonesia selain HTI juga Front Pembela Islam (FPI), sebagai contoh menarik lainnya dari kompleksitas politik intoleransi di kalangan ormas Islam Indonesia. Terdapat banyak bukti bahwa FPI telah berulang kali melakukan kekerasan intoleran dan aktivitas main hakim sendiri. Meski demikian, sejauh ini FPI belum tersentuh dengan revisi UU Ormas itulah yang membedakan dengan HTI.

FPI lebih cerdas. FPI bisa membangun koalisi politik yang lebih kuat dibandingkan dengan HTI, maka ia mendapatkan banyak dukungan dari beberapa tokoh agama di NU. Alasannya, FPI bukanlah HTI, apalagi Salafi dan memiliki akar agama yang sama dengan NU, dan itu berarti FPI bukanlah ancaman kelompok agama yang berbahaya bagi NU.

Namun bagi negara, kata Yudian setidaknya FPI adalah organisasi yang sering main hakim sendiri yang menghidupkan gerakan radikalisme di Indonesia. Ya, selama FPI bisa mempertahankan koalisi ini dengan partai politik dan Ormas Islam yang masih bisa diajak untuk berkompromi sulit bagi negara untuk melarang FPI seperti HTI, betapapun intoleran atau kekerasan terus dilakukan. Wallahua’lam…

Sumber :  harakatuna.com