BPIP Masuk Universitas Pertahanan, Try: Pancasila Pemersatu Bangsa, Mengamalkan Sesuai Tantangan Jaman.


Jakarta, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno sudah sepuh. Namun ingatan Wakil Presiden ke-6 ini masih kuat, bicaranya bernas. Sebagai Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), Try lancar kasih wejangan bela negara saat Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BPIP dan Universitas Pertahanan (Unhan) tentang Pelaksanaan Pembinaan Ideologi Pancasila di Aula Serba Guna, Kampus Unhan, Bogor, Jumat (24/7) pagi.

Hadir pada acara tersebut Selain Anggota Dewan Pengarah BPIP, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya juga hadir Rektor Unhan Laksda TNI Amarullah Octavian beserta jajaran, Kepala BPIP Yudian Wahyudi, Wakil Kepala BPIP Hariyono, beserta jajaran.
Tampak tegap di podium, Try mengapresiasi kerja sama BPIP dan Unhan. Layaknya pejuang bangsa, pembinaan Pancasila idealnya sedini mungkin dari bangku sekolah dan kampus.
"Para pejuang bangsa itu identitas kita. Sebagai kader, para siswa digembleng untuk keutuhan dan kejayaan NKRI. Unhan jadi contoh bagi Perguruan Tinggi lain mengamalkan nilai yang terus dikembangkan. IT boleh berkembang, tapi jati diri dan budaya bangsa jangan ditinggalkan," jelas Sang Jenderal.

Pendidikan umum atau agama, kata Try, mencegah dampak buruk era kekinian. "Sebagai Ideologi terbuka, Pancasila bisa dikembangkan sesuai tantangan jaman. Pancasila ini produk. Syukurlah kita pada Tuhan, Indonesia ada Pancasila, hikmah bangkit setelah dijajah," jelasnya.

Dari pihak Unhan, Amarullah menyambut baik kerja sama yang melibatkan seluruh civitas akademika. Khususnya terkait kemampuan dosen pemateri Pancasila sesuai dengan standar BPIP.
“Penting buat kami untuk memiliki sertifikasi kompetensi sebagai dosen Pancasila. Saat ini di Unhan ada tiga jenjang pendidikan, S1-S3. Nah, diharapkan pemberian materi kuliah secara berjenjang dan berlanjut agar pemahaman siswa pada Pancasila semakin baik. Semakin tinggi stratanya, semakin Pancasilais,” sambung tandasnya.

Amarullah optimis kerja sama ini bakal jadi role model bagi seluruh universitas di Indonesia.
“Kami juga ingin memperkenalkan ideologi Pancasila di mata dunia lewat pemberian materi kuliah Pancasila di universitas pertahanan di seluruh dunia,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga ingin menjalankan beberapa program yang telah disepakati bersama BPIP. Di antaranya, membuat penelitian untuk mengimplementasi Pancasila di seluruh komponen bangsa termasuk kaum milenial.
“Butuh materi implementatif dan adaptif bagi milenial di TNI, maupun milenial awam,” jelas Amarullah.
Katanya, generasi milenial di tubuh TNI sama dengan generasi milenial umumnya. Sangat ramah dengan teknologi dan pragmatis. Meski begitu, semangat bela negara dari putra-putri TNI tak terkontaminasi dengan kecanggihan zaman.
“Gawai dimanfaatkan untuk mendapatkan pengetahuan, ini penting sekali. Membuat mereka lebih kreatif dan inovatif. Termasuk di prosedur kerja dan pembinaan modifikasi. Untuk pemahaman ideologi Pancasila, mereka juga terbaik pastinya,” tandas Amarullah.

Adapun Yudian Wahyudi menyebut aksi BPIP masuk ke Unhan itu semata memperkuat kesatuan atas nama Pancasila. Apalagi Unhan itu kampus yang dirancang khusus untuk mencetak anak bangsa.
“Di lain sisi, ideologi Pancasila bisa diperkenalkan ke mata dunia. Di Unhan, semuanya mencakup teknologi, militer. Jadi kami bisa menyambungkan ke berbagai pihak,” kata Yudian.
“BPIP juga ingin membantu semangat dan dorongan, kalau istilahnya pertahanan semesta. Jadi keprajuritan, semangatnya ada, hukum dan ideologi pancasilanya juga besar."