Kepala BPIP Luruskan Tudingan Pancasila sebagai Thaghut


Jakarta:- Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi, MA. Ph.D, meluruskan tudingan Pancasila sebagai thaghut kepada diaspora Indonesia di Austria dan Slovenia dalam webinar kebangsaan bertajuk “Pancasila dan Diaspora: Meneguhkan Komitmen Kebangsaan Masyarakat Indonesia di Austria dan Slovenia” yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Vienna, Minggu (6/6).
 
Ia menjelaskan bahwa tudingan ini tidak benar. ”Toghut ini kalau dalam Al-Qur’an ditujukan kepada Fir’aun. Ia disebut sebagai thaghut karena tiga alasan. Pertama dia sendiri mengaku sebagai tuhan (absolut), yang kedua menindas rakyat, dan yang ketiga karena melakukan genosida. Tiga hal ini intinya kejahatan ketuhanan dan kemanusiaan,” Jelas Prof. Yudian kepada peserta webinar, yang juga dihadiri langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Vienna, Dr. Darmansjah Djumala.
 
Ketidakbenaran ini merujuk pada fakta bahwa, Pancasila berkebalikan dengan penjelasan mengenai thaghut yang disebutkan sebelumnya. Pancasila, sebagaimana yang dipahami dan diketahui selama ini, menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan. Maka, aneh jika kemudian Pancasila ini dianggap sebagai thaghut.
 
Selain itu Prof. Yudian juga mengimbau kepada diaspora masyarakat Indonesia di Austria dan Slovenia untuk membentengi diri dari masifnya gerakan-gerakan ideologi transnasional yang berseberangan dengan Pancasila dan mencoba untuk mendelegitimasi Pancasila sebagai konsensus luhur Bangsa Indonesia.
 
Hal ini penting untuk ditekankan karena masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri, memiliki kerentanan spasial dan sosio-psikologis – jauh  dari keluarga, jauh dari negara asal, dan tinggal di lingkungan sosial-budaya yang berbeda – terhadap  serangan-serangan dari ideologi transnasional. 
 
Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Darmansjah Djumala. Mengutip dari pidato Presiden Jokowi dalam upacara Harlah Pancasila 1 Juni 2021 lalu, ia menyampaikan bahwa, di era keterbukaan informasi dan globalisasi ini, Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang semakin berat.
 
“Tantangan yang dihadapi Pancasila, tidaklah semakin ringan. Globalisasi dan interaksi antar antar dunia, tidak serta merta meningkatkan kesamaan pandangan dan kebersamaan. Ideologi trans nasional cenderung meningkat, memasuki berbagai lini kehidupan masyarakat, dengan berbagai cara dan berbagai strategi,” Ungkapnya.
 
Untuk itu ia berpesan, “Diaspora Indonesia di Austria, Slovenia dan Eropa harus bijak dan waspada terhadap meningkatnya rivalitas ideologi transnasional, yang bisa merenggangkan ikatan sosial dan kebersamaan kita sesama Bangsa Indonesia, kesempatan peringatan Hari Lahir Pancasila ini harus benar-benar kita manfaatkan untuk meneguhkan komitmen kita terhadap Pancasila, sebagai pedoman ideologis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”.
 
Terakhir, BPIP juga berpesan agar, diaspora Indonesia di Austria dan Slovenia senantiasa terus mengadakan kegiatan semacam ini, untuk meneguhkan Pancasila sekaligus membentengi diri dari ideologi transnasional dan radikal. Harapannya adalah, ketika belajar diluar negeri mendapat ilmu dan keahlian dibidang masing-masing, dan ketika Kembali ke Indonesia bisa berkontribusi bagi bangsa dan negara tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia. (LA)