Soal Membumikan Pancasila Kepada Generasi Muda, Haedar Nashir: Kolonial Kasih Contoh Kepada Milenial


Yogyakarta:- Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, setidaknya ada dua cara yang bisa digunakan agar nilai Pancasila bisa diimplementasikan oleh generasi milenial dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kaum kolonial atau orang-orang tua harus menjadi contoh atau teladan. Kedua, mengkomunikasikan atau melibatkan  generasi muda dalam usaha membumikan Pancasila. 
 
Hal tersebut disampaikan Haedar saat memberikan sambutan acara Sarasehan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila pada Generasi Milenial yang digelar kerjasama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), di Yogyakarta, Senin (5/4). 
 
Hadir pada acara tersebut Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi, dan Rektor UMY Gunawan Budiyanto.
 
Hadir pula sejumlah narasumber  yaitu Deputi Pengkajian dan Materi BPIP  FX Adji Samekto, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo, Sosiolog M Najib Azca, dan Direktur Program Doktor Politik Islam UMY  Zuly Qodir. 
 
Dalam sambutanya, Haedar menyampaikan agenda untuk membumikan nilai Pancasila adalah agenda yang panjang. Butuh kesabaran dan usaha yang sungguh-sungguh. Salah satu problemnya adalah ada kesenjangan antara norma dan realita atau praktik kehidupan berbangsa dan bernegara. 
 
Lalu bagaimana caranya agar nilai Pancasila ini bisa dengan mudah diimplementasikan oleh generasi milenial? 
 
Menurut Haedar, generasi kolonial yaitu generasi yang tua harus bisa memberikan teladan. Karena persoalan tentang Pancasila bukan hanya soal ucapan, tapi juga keteladanan pada perilaku nyata.  Ia mengutip pepatah arab yang berbunyi perbuatan atau tindakan itu lebih shahih dari pada hanya teori atau retorika. 
 
"Jadi generasi milenial akan membudayakan Pancasila jika generasi kolonial bisa menjadi teladan dalam berbangsa dan bernegara," kata Haedar. 
 
Menurut dia, salah satu prioritas dalam membumikan Pancasila ada pada institusi lembaga negara dan pejabat atau elite negara. Karena Pancasila adalah dasar negara. Dia yakin, ketika institusi negara sudah menjalankan sila pertama sampai kelima, urusan membumikan Pancasila sudah selesai separuh atau bahkan dua pertiga. "Karena nanti masyarakat lebih-lebih kaum milenial akan otomatis punya role model atau contoh yang bisa dijadikan teladan," ungkapnya. 
 
Haedar mengatakan, usaha untuk membudayakan nilai Pancasila kepada generasi milenial sangat penting. Karena generasi muda ini  yang akan mewarisi bangsa dan negara di masa depan. Agar usaha berjalan sukses, kita harus mampu memahami karakter generasi milenial yang sangat melekat dengan dunia teknologi informasi itu. Karena generasi milenial seperti anak muda umumnya. Tidak suka pada kemapanan, suka pada perubahan, inovatif, kreatif dan suka yang non konvensional. 
 
Agar bisa dengan mudah diterima, selami dulu alam pikir mereka. Libatkan mereka dalam berbagai usaha membumikan Pancasila. Misalnya dalam karya-karya yang populer di kalangan anak muda seperti buku, film atau video singkat, atau dialog langsung. "Mungkin ini akan lebih mengena bagi mereka. Agar dunia milenial tidak kehilangan kompas kehidupan. Kita inilah yang harus menjadi suluh," tuntasnya. 
 
Rektor UMY Gunawan Budiyanto mengatakan, urusan soal Pancasila mestinya sudah selesai. Namun karena pembudayaan yang agak tersendat seolah nilai Pancasila terpinggirkan di masyarakat. 
 
Apalagi dalam sebuah video yang disebar di  TikTok baru-baru ini, pernah muncul 10 remaja yang tidak bisa menjawab saat diminta menyebutkan sila dalam Pancasila. Tapi saat diminta menyebutkan game terkenal semacam Mobile Legend, mereka  sangat fasih. 
 
Menurut Gunawan, hal ini antara lain disebabkan  kurangnya sosialisasi soal Pancasila. 
 
Gunawan memaparkan, Pancasila merupakan kesepakatan dari seluruh komponen bangsa. Kesepakatan Dalam format demi berdirinya dan bersatunya NKRI. "Karena itu ini menjadi perlu disosialisasikan dengan baik. Perlu kita unggah nilai-nilai Pancasila," kata Gunawan.  
 
Demi kepentingan bangsa, dalam sosialisasi itu perlu disampaikan dalam narasi kenegarawanan. Hindari diksi atau narasi politik. Karena itu pemerintah, dosen, harus melihat dalam perspektif kenegarawanan.  Diksi politik dalam mengartikan, artikulasi, dan menarasikan Pancasila justru akan membuat perpecahan. Akan memarjinalkan kelompok tertentu. "Karena itu kita harus bersikap lebih dewasa terhadap nilai-nilai luhur pendiri bangsa. Pancasila ini harus kita sosialisasikan dan terus budayakan," ujarnya.  
 
Dia yakin generasi milenial bukan generasi kaleng-kaleng. Generasi milenial adalah generasi yang punya kemampuan beradaptasi luar biasa. Jika dikomunikasikan atau disosialisasikan dengan baik, dia yakin nilai-nilai Pancasila bisa dengan mudah dan dibumikan oleh generasi milenial. Ia berharap, upaya sosialisasi ini tidak hanya sekedar berhenti di UMY tapi juga di perguruan tinggi lain. 
Sumber Foto: https://www.liputan6.com/