Selayang Pandang Peristiwa Bandung Lautan Api


Jakarta – Tepat hari ini kita memperingati salah satu peristiwa penting perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah, yaitu peristiwa Bandung Lautan Api. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 24 Maret 1946. Hal ini bermula ketika sebuah pesawat Dakota milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) berputar-putar di atas Kota Bandung. Pesawat ini sengaja berputar-putar membawa ribuan lembar kertas yang dilemparkan guna menekan para Tentara Republik Indonesia dan Laskar-laskar Rakyat untuk mengosongkan Bandung dalam waktu 24 jam.[1]

Mengutip dari laman Historia, bahwa sebelum terjadi pembumihangusan Bandung sebenarnya telah ada serentetan peristiwa yang secara langsung menjadi pemantik akan kejadian ini. Pada awal 1946, British Indian Army sudah menguasai hampir setiap sudut Kota Bandung yang menimbulkan kekacauan dan pemberontakan antara tentara Inggris dan kaum nasionalis Indonesia yang terdiri dari para tentara maupun warga sipil.[2]

Dalam merespon kekacauan itu, para pejuang lokal akhirnya mengirimkan tembakan-tembakan mortir secara spontan ke wilayah Bandung Utara yang merupakan markas dan tempat tinggal para penjajah di Kawasan Jaarbeurs dan kamp interniran. Tembakan mortir dari para pejuang Indonesia langsung direspon oleh pihak Inggris yang langsung meluncurkan tembakan-tembakan artilerinya dan mengakibatkan jatuhnya puluhan korban dari para pejuang dan warga sipil yang tinggal di komplek Perusahaan Telegrap dan Telepon (PTT).

Atas kejadian ini, Markas Besar Tentara Inggris di Jakarta kemudian menekan Pemerintah Republik Indonesia untuk memerintahkan Tentara Republik Indonesia mengosongkan area Bandung selatan kurang lebih sejauh 11-12 kilometer. Sutan Sjahrir yang saat itu menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia meminta Panglima Komandemen Jawa Barat Mayor Jenderal Didi Kartasasmita untuk mengkondisikan masyarakat yang ada di Bandung Selatan dengan cara menuruti permintaan Tentara Inggris. Namun permintaan tersebut tidak disepakati oleh Mayor Jenderal Didi yang tidak berkeinginan mengecewakan pengorbanan yang telah dialami oleh para Tentara Republik Indonesia.

Karena ketidaksebandingan jumlah dan peralatan dengan Tentara Inggris, para Tentara Republik Indonesia yang dikomandoi oleh Jenderal A.H. Nasution memutuskan untuk mengungsikan rakyat ke arah selatan sejauh 11 kilometer sebelum membakar Kota Bandung. Pembumihangusan juga diikuti para warga dengan membakar rumah mereka sebelum meninggalkannya. Peristiwa Bandung Lautan Api malam itu dikenang sebagai salah satu taktik yang paling ideal dalam situasi genting ketika jumlah dan peralatan perang yang dimiliki oleh Tentara Republik Indonesia tidak sebanding dengan kekuatan sekutu dan NICA.[3]

Peristiwa ini juga menjadi salah satu simbol perlawanan rakyat Indonesia yang setiap tahun diperingati sebagai upaya mengenang jasa-jasa para pahlawan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (FAW)