Kolaborasi LIPI dan BPIP Diperlukan dalam Pengaktualisasian Nilai-nilai Pancasila


Jakarta - Deputi Bidang Pengkajian dan Materi (Jianri), FX Adji Samekto menghadiri FGD yang diselengarakan Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya - Lembaga Ilmu Pegetahuan Indonesia (P2MB-LIPI) pada Rabu (20/05/2020) pukul 10.00 s.d 12.00 WIB.
Tema yang diangkat oleh P2MB-LIPI dalam FGD adalah “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila di Era Digital”. FGD dilakukan dengan mekanisme telekonferens dengan memanfaatkan aplikasi zoom meeting.
Peneliti Ahli Utama dari PMB-LIPI, Dwi Purwoko bertindak sebagai moderator. Purwoko mengutip pidato Presiden Sukarno pada 1958 yang menegaskan Pancasila sebagai alat pemersatu Bangsa Indonesia. Sejarah singkat mengenai siding BPUPK dan perkembangan Pancasila selama orde lama, orde baru sampai pascareformasi juga dirangkai sebagai pengantar diskusi.
Dalam kesempatan itu, Bapak Deputi Bidang Jianri menyampaikan materi Kebangsaan di Pusaran Globalisasi dan Radikalisme. Tema utama yang disampaikan kemudian dikaitkan dengan aktualisasi nilai-nilai Pancasila di era digital atau yang dikenal juga dengan era milenial.
Adji menjelaskan, dari kelima sila dalam Pancasila, sila yang akan dibahas dalam FGD ini adalah terkait kebangsaan. Kebangsaan itu adalah sikap objektif merasa senasib sepenangungan dan hidup bersama dalam suatu wilayah.
“Diskursus kebangsaan tidak terlepas dari kebudayaan dalam arti yang luas. Kebudayaan lahir dari pengalaman fakta dan pengalaman akal, serta interaksi antara individu dengan ekosistem tempat hidupnya juga dengan individu-individu lain di tempat hidupnya”, jelasnya.
Semangat kebangsaan ini, mulai luntur di tengah himpitan globalisasi dan radikalisme terutama pascareformasi. Lunturnya semangat kebangsaan dikarenakan Pancasila sekadar diajarkan sebagai ilmu pengetahuan, dan mengabaikan nilai-nilai praksis dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi yang lahir pasca reformasi atau era-1990-an, tidak lagi mengenal Pancasila sebagai pandangan hidup Bangsanya. Inilah yang kemudian membuat mereka kemudian lebih menerima ideologi transnasional sebagai suatu kebenaran. Padahal tidak sepenuhnya ideologi transnasional itu benar adanya.
Mengembalikan atau mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila di era digital atau milenial ini menjadi suatu hal yang penting untuk menumbuhkan semangat rasa kebangsaan. Namun dalam memperkenalkan nilai-nilai Pancasila, perlu diperhatikan paradigma penyampaiannya.
Menurut Adji, cara menyampaikan Pancasila bisa dilakukan dengan cara sosialogis dengan menyampaikan realitas-realitas yang ada, juga cara indoktrinasi dengan mengutarakan nilai-nilai dan historisitas dari Pancasila.
Di era digital saat ini, menurut Adji cara sosiologis dengan memilih salah satu dari sejumlah paradigma (seperti: positivis, postpositivist, kritis dan konstruktivis) bisa digunakan untuk menyampaikan Pancasila kepada generasi milenial.
Tentunya dalam menyampaikan Pancasila kepada generasi milenial di era digital ini, diperlukan kolaborasi atau gotong royong dari semua pihak. Termasuk kolaborasi antara BPIP dengan LIPI.
Salah satu peserta yang merupakan Peneliti dari P2MB-LIPI, Obing Katubi mengungkapkan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh P2MB-LIPI tujuan akhirnya adalah untuk membantu BPIP dalam menyebar luaskan Pancasila ke seluruh Masyarakat Indonesia.
P2MB-LIPI mewakili LIPI secara umum berharap ke depan LIPI dan BPIP bisa berkolaborasi melakukan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pengaktualisasian Pancasila bagi masyarakat umum, khususnya bagi generasi milenial di era digital seperti sekarang ini. (Ams)