Universitas Negeri Gorontalo dan Kementrian Agama Kembangkan Kurikulum Anti Radikalisme


Jakarta:- Upaya mengantisipasi potensi radikalisme di kalangan pelajar, Universitas Negeri Gorontalo dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo sepakat bekerja sama dalam pengembangan kurikulum yang moderat dan anti radikalisme.

Alasan kedua lembaga ini terkait data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme yang menyebut Gorontalo berada pada peringkat lima besar daerah yang berpotensi berkembangnya radikalisme.

Pada kesempatan itu, Rektor Universitas Negeri Gorontalo dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo menandatangani perjanjian kerja sama, di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kabupaten Gorontalo, Kamis (18/2).

Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Ir. Eduart Wolok, ST, MT., mengatakan bahwa pada semua tingkatan lembaga pendidikan baik itu sekolah maupun perguruan tinggi tidak boleh berkembang virus radikalisme. Sehingga sangat dibutuhkan kolaborasi dan sinergitas antar lembaga agar bisa menguatkan persaudaraan, dan toleransi dapat dijalankan.

“UNG sementara mengembangkan model Desa Pancasila sebagai model pengelolaan keragaman dan reproduksi nilai Pancasila di kalangan desa. Agenda ini adalah praktik pembumian nilai-nilai Pancasila di unit terkecil negara. Kami berharap agar kerjasama ini bisa lebih menambah kekuatan untuk menangkal radikalisme. Apalagi ada data survei Alvara yang menyebut sekitar 23 persen pelajar yang terpapar paham radikal,” jelas Eduart.

Dilanjutkan Eduart, model Desa Pancasila akan dikembangkan dan disisipkan pada muatan kurikulum yang diberdayakan.

“Anak didik kita memiliki bekal untuk dapat melihat Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika sebagai satu kesatuan tanpa perlu menghilangkan jati diri kita,” tuturnya. (Mg-01/ER)