BPIP: Generasi Milenial Harus Kuasai Ruang Publik


Yogyakarta:- Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mendorong peran generasi milenial untuk mengisi ruang publik dari segala bidang. Hal tersebut sebagai upaya mempertahankan dan penyelamatan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Dulu abad 20 para pemuda telah membuat sumpah untuk mempersatukan bangsa, nah saat ini kita terutama kalian harus mengisi dengan mempertahankan dan menyelamatkannya”, tegas Kepala BPIP Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D saat menjadi Keynote Speaker pada Seminar Kebangsaan dengan tema Peran Generasi Muda dalam Menjaga serta Merawat Kerukunan Umat Beragama di Indonesia Selasa, (1/12).

Menurut pemecah rekor sebagai dosen Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dan berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat (AS) itu juga menekankan kepada generasi muda untuk membangun rasa toleransi dan melawan segala bentuk ancaman.

“Tidak ada moderasi dan toleransi tanpa konsensus, karena konsensus adalah hukum tertinggi tuhan yang mengatur kenegaraan”, terangnya.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo juga mengingatkan tugas generasi muda ke depan adalah berperan aktif dalam memperkuat komunitas atau organisasi lintas iman.

“Tugas generasi milenial ke depan adalah bagaimana mengamalkan Pancasila dalam tindakan melalui komunitas lintas iman secara terbuka dengan memanfaatkan teknologi”, ucapnya.

Selain itu menurutnya Pancasila harus menjadi otokritik supaya menjadi jalan tengah peradaban. Negara Indonesia menjalankan kehidupan bernegara dan berbangsanya berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.

“Setiap keputusan yang diambil untuk Negara haruslah didasarkan atas Ketuhanan dan tetap mempertahankan setiap norma yang ada pada Negara, tujuannya adalah untuk masyarakat sejahtera adil dan makmur”, tegasnya.

Sementara itu Presiden mahasiswa BEM UGM M. Sulthan Farras mengatakan pihaknya sebagai generasi milenial akan berkomitmen akan terus menjaga toleransi dan menjaga keutuhan NKRI sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Dirinya bahkan mengutuk keras terhadap tindakan kekerasan apalagi yang mengatasnamakan agama dalam bentuk apapun, baik bentuk tindakan maupun bentuk lisan.

“Saya percaya tidak ada Agama yang mengajarkan tindakan kekerasan dalam bentuk apapun”, ujarnya.

Seminar yang diselenggarakan secara luring dan daring itu dihadiri Rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng., IPU, ASEAN Eng, Deputi Bidang Pengkajian dan Materi BPIP Prof. FX. Adji Samekto, SH., M.Hum dan Srikandi Lintas Iman DIY, Kristi (ER)