Kepala BPIP Sebut Kegembiraan Anak Berubah Akibat Pandemi COVID-19


Jakarta:- Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Yudian Wahyudi menyebut bahwa kondisi pandemi COVID-19 saat ini masih sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, tak terkecuali anak-anak. 

Hal ini diungkapkan Prof. Yudian saat memperingati Hari Anak Dunia (World Children Day) sekaligus peluncuran produk Pembinaan Ideologi Pancasila berupa Pancamain Indonesia. Menurutnya perayaan untuk anak-anak ini seharusnya disambut dengan rasa penuh suka cita. Akan tetapi, keadaan ini berubah ketika COVID-19 melanda dunia.

“Tapi di masa pandemi seperti ini, kita belum bisa memberikan kegembiraan yang seharusnya mereka terima karena ada situasi seperti ini,” kata Yudian di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (20/11). 

Bahkan, kata dia, ada sebagian pihak mengatakan bahwa pandemi ini telah menciptakan krisis tambahan untuk anak-anak di seluruh dunia, bukan saja Indonesia. Tak bisa dipungkiri, kondisi ini merupakan bagian dari ujian Tuhan Yang Maha Kuasa. 

“Jadi siapapun itu nanti diuji, situasi ini sudah merubah kita, bahkan mengkhawatirkan sekali bagi perubahan perjalanan hidup anak-anak kita di masa yang akan datang,” ujar Pendiri Pondok Pesantren Nawesea Yogya. 

Menurutnya, bukan berarti menganjurkan agar sekolah dibuka kembali tanpa mempertimbangkan protokol kesehatan. Yang terpenting adalah bagaimana bisa mengembangkan, menciptakan rangka medium dalam metode pembelajaran alternatif yang bisa turut berkontribusi bagi anak-anak. Hal ini penting untuk memastikan perkembangan anak- anak tanpa mengorbankan kesehatan fisik, mental, dan kebahagiaan mereka. 

“Dalam hal inilah, kami ingin berkontribusi pada acara-acara alternatif dalam proses pembelajaran dan pengembangan karakter anak yang sesuai dengan tugas dan fungsi pokok BPIP dalam pembinaan,” Kata Yudian menuturkan. 

Sejumlah dampak yang jelas adalah penutupan sekolah atau proses pembelajaran yang berganti secara daring (online). Bahkan, ia mengutip catatan UNESCO yang menyatakan bahwa penutupan sekolah mempengaruhi 1,6 miliar murid di 190 negara atau setara dengan 90 persen anak usia sekolah di seluruh dunia. 

Belum lagi, dampak lainnya yang dirasakan misalnya anak-anak tidak bisa bertemu kawan-kawan sebaya, berkurangnya kesempatan pergerakan fisik, hingga kehilangan rutinitas. 

“Ini semua merupakan faktor yang mengkhawatirkan yang akan mempengaruhi perkembangan mental dan fisik anak-anak kita ke depan,” ujar Guru Besar, lulusan pondok Pesantren. (BM)