BPIP: Masyarakat Butuh Tokoh yang Bisa Jadi Role Model Pengamalan Pancasila


Jakarta;- Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP) menggelar diskusi online dengan tema "Memperkuat Kesaktian Pancasila" pada Senin (5/10). Diskusi ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dari tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo mengatakan tantangan saat ini adalah menjadikan Pancasila sebagai gugus insting bagi masyarakat.

Adapun gugus insting yang dimaksud Benny adalah membiasakan kehidupan sehari-hari dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Dengan begitu, Pancasila akan terefleksi dalam batin sehingga melekat dan menjadi pegangan.

"Tantangan kita itu menjadikan Pancasila sebagai gugus insting dalam bertingkah, berperilaku, bernalar, dan berelasi," kata Benny.

Sila pertama tentang Ketuhanan yang Maha Esa, misalnya, menurut Benny jika nilai ini sudah terefleksi dalam batin maka seseorang akan terdorong memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Apalagi, lanjut Benny, jika hal ini menjadi roh dalam kebijakan publik, maka bangsa ini akan menemukan kembali tokoh dalam perjuangan.

Untuk itu, Benny mengajak masyarakat membatinkan Pancasila dalam praksis kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat di lingkungan sekitar.

"Bermacam-macam cara seperti melalui dongeng dan permainan sekarang mulai pudar. Pendidikan nilai harus diutamakan sehingga mau dan sadar yang menjadi gugus insting. Pancasila harus dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya sekedar hafalan. Harus menjadi habitus," tegas Benny.

Meski begitu, Benny menekankan saat masyarakat tetap membutuhkan teladan, khususnya dalam pengamalan nilai Pancasila. Benny mengatakan masyarakat khususnya, anak- anak merindukan sosok teladan pejuang Pancasila.

"Di ruang publik kita mengalami krisis sosok teladan atau role model. Seharusnya setiap sila terlihat dalam setiap tindakan dan ada role modelnya," katanya.

Untuk menunjang pengarusutamaan Pancasila, Benny mengatakan ruang publik harus diisi dengan konten positif yang memberikan contoh tentang penanaman dan pengamalan nilai Pancasila.

Tantangan lain diungkapkan Benny saat ini yaitu bagaimana memasukan nilai Pancasila ke dalam hal-hal kekinian dan model pembinaan yang aplikatif dengan sistem digital.

Sementara itu, Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Kementerian Pendidikan dan kebudayaan, Abdul Latif Bustami, menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara sudah final dan mengikat dan seyogyanya tidak ada lagi perdebatan.

Ia pun mendorong Pancasila yang tertulis itu dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Abdul juga mengakui bahwa nilai Pancasila mampu membawa keadilan bagi masyarakat.

"Keadilan harus benar-benar dengan rakyat, jangan tajam ke bawah tumpul ke atas," ujarnya.

Senada dengan Benny, Abdul mengatakan bahwa perlunya teladan Pancasila dari para tokoh bagi masyarakat. "Gotong royong juga dirasakan masyarakat semakin menjauh dan tauladan dari para tokoh menurut riset yang ada mengecewakan.Oleh karena itu, Perlu ada perjuangan yang terus menerus," katanya.

Abdul berharap, Indonesia yang begitu majemuk dapat saling bersatu dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.

"Silakan orang merekayasa apapun. Tapi sejarah menjelaskan Pancasila solusi terbaik sebagai dasar negara dan pedoman dan nyata adanya. Pancasila sebagai pemersatu dan perjalanan sejarah menjelaskan bahwa Pancasila luar biasa," tandasnya. (*/ER)

#teropongsenayan.com