BPIP Dorong Guru PPKn Sebagai Duta Penggerak Pancasila


Bogor, Deputi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Badan Pembinaan Ideologi Panacasila (BPIP), Dr. Babby Siti Salamah, menyampaikan bahwa Guru mata pelajaran PPKn bisa didorong sebagai duta penggerak Pancasila.

Hal ini diungkapkan pada saat gelaran pembinaan ideologi pancasila bagi 174 guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).


“Guru merupakan ujung tombak dalam kegiatan maupun proses pendidikan maka Guru diharapkan berperan aktif untuk melaksanakan penyelenggaraan pendidikan dengan baik terutama pada generasi penerus bangsa yang bercermin pada ideologi Pancasila,” kata Babby di Bogor selasa, (4/8/2020).

Disampaikannya bahwa Kedeputian Bidang Diklat BPIP memandang pentingnya diklat PIP terutama bagi Guru mata pelajaran PPKn agar mampu meningkatkan kemampuan dan keahliannya dalam pemahaman terhadap Ideologi Pancasila.

"Guru Mata Pelajaran PPKn juga perlu mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, khususnya terhadap ideologi Pancasila yang mencakup aspek nilai, pengetahuan, dan keterampilan serta impelementasinya dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya.

Pada saat yang sama Kepala BPIP Prof. K.H. Yudian Wahyudi mengatakan Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila penting untuk menjaga Pancasila sebagai "living" dan "working ideology".

"Guru adalah salah satu pilar penting dalam PIP karena guru merupakan aparatur yang paling bersentuhan langsung dengan anak didik. Apalagi di tengah beragam persoalan pendidikan kita seperti kecenderungan radikalisme," kata Prof. K.H. Yudian Wahyudi saat membuka acara.

Disampaikannya bahwa Penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) menyebut hampir 50% pelajar setuju kekerasan atas nama agama, maraknya penolakan Pancasila-penelitian yang sama juga menyebut 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi.
"Selain data LaKIP, BNN juga menyebutkan tingginya angka pengguna narkoba 3,3 juta orang (24 persen atau 810.267 di antaranya adalah pelajar)," ucapnya.

Selain itu menurutnnya data Komisi Perlindungan Anak Indonesia tahun 2018 kekerasan fisik di kalangan pelajar cukup banyak yakni 32,7 persen pelajar setidaknya pernah satu kali diserang secara fisik (SNKBS 2015), 84 persen siswa mengalami kekerasan di sekolah.

"Saya harapkan di akhir acara para guru yang berpartisipasi dalam kegiatan ini bisa meningkatkan kompetensi, keahlian, ketrampilan dalam PIP," tegasnya.

Kegiatan yang digelar sampai jum'at (7/8/2020) mendatang itu, selain dihadiri langsung oleh Kepala BPIP, juga dihadiri Wakil Kepala BPIP, Prof. Haryono, Deputi Bidang Pengkajian dan Materi BPIP Prof. Dr. FX Adji Samekto, Ketua Umum Indonesian Conference on Relegion and Peace (ICRP) Prof. Dr. Hj. Siti Musdah Mulia, Direktur Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan BPIP Marsudi Sarwono, Widyaiswara Madya Lembaga Administrasi Negara RI Dr. Ajriani Munthe Salak, Kepala Bidang Perencanaan Diklat Kementerian Pertahanan RI Kol. Sus. Dendi Tuwidanterse.

Sementara itu salah seorang peserta Dra. Suharmi, M.Pd mengapresiasi kegiatan tersebut, karena pendidikan dan pelatihan tentang ideologi pancasila sangat bermanfaat bagi tenaga pendidik untuk disampaikan kepada siswa atau siswi dan diimplementasikan.

"Saya sangat mengapresiasi diklat ini, karena sangat penting bagi saya sebagai tenaga pendidik," ucap Suharmi, saat mengikuti diklat. (ER)