Berita

Kepala BPIP: Belajarlah dari Bung Karno dalam Membumikan Pancasila

BY Aris Heru Utomo . 9 Juni 2020 - 07:27

(Jakarta, 08/06/2020) – “Pancasila merupakan ideologi mukjizat unik di abad ke-20 atau ideologi alernatif karena mampu mempersatukan ideologi yang tengah bertarung pada saat itu, bahkan menjadi ideologi pembebas,” ujar Kepala BPIP Prof. Drs. K.H Yudian Wahyudi, M.A, Phd dihadapan peserta webinar memperingati Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada 8 Juni 2020.  
“Pada 1 Juni 1945 kita mendapatkan Pancasila sebagai ideologi pemersatu dan pembebas. Apabila kita perhatikan, sejak kelahirannya Pancasila selalu dihadapkan pada konflik, namun pada akhirnya selalu dapat menyatukan bangsa dan negara Indonesia,” tambah Prof. Yudian.
Prof. Yudian kemudian menceritakan mengenai pengalaman sejarah tahun 1948 dimana sebagai sebuah negara yang baru merdeka, Indonesia dihadapkan pada konflik internal yang tidak ringan. Konflik internal terjadi antara tokoh-tokoh partai politik dan golongan serta terjadinya pemberontakan, yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di tengah konflik internal ini Bung Karno berhasil membumikan nilai-nilai Pancasila, sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa ke dalam permusyawaratan (dengan berdiskusi bersama K.H Wahab Chasbullah) hingga lahirlah inisiatif persatuan dalam bentuk halal bihal atau saling memaafkan di antara pihak yang berkonflik tanpa harus merendahkan satu sama lain.
Prof. Yudian menambahkan bahwa halal bihalal merupakan ijtihad K.H Wahab Chasbullan di tengah konflik internal berbangsa dan bernegara Indonesia. Langkah ini mengedepankan pendekatan dari hati ke hati dan prinsip guyub rukun. Semua pihak menurunkan ego politiknya masing-masing hingga titik terendah. Dengan guyub rukun, tidak diperlukan teknologi militer untuk melawan Covid-19. Yang diperlukan adalah kembali pada konstitusi, yang dalam kaitannya dengan Covid-19 adalah kembali pada protokol medis. Suatu tindakan yang sama saja dengan jihad akbar. Melalui guyub rukun dan jihad akbar maka kita akan berhasil back to normal, kembali ke asal.
Prof.Yudian juga menambahkan bahwqa belajar dari pengalaman negara lain seperti AS dalam menghadapi Covid-19, sebaiknya masyarakat Indonesia tidak menyalahkan upaya pemerintah dalam menangani wabah virus korona. Negara adidaya seperti AS yang memiliki teknologi militer canggih saja tidak mampu mengatasi wabah virus corona, bahkan muncul kerusuhan. Saatb ini yang dibutuhkan bukan sikap saling menyalahkan melainkan semangat persatuan, tolong menolong dan gotong royong melawan Covid-19 berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
“Dihadapkan pada kondisi perang dunia baru yaitu perang medis melawan Covid-19, dimana teknologi militer tidak mampu melumpuhkannya, perlawanan hanya dapat dilakukan apabila masyarakat Indonesia bergotong royong yang berketuhanan dan menunjukkan sikap dan tindakan yang terbaik yang dapat dilakukannya. Kita mesti belajar dari Bung Karno dalam membumikan Pancasila dan kembali ke fitri, kembali ke keadaan normal baru pasca Covid-19,” pungkas Prof. Yudian menutup paparannya di webinar. (Dir.SKJ)