Berita

Romo Benny Sebut Atasi Banjir Butuh GHBN

BY Pusdatin . 1 Maret 2021 - 14:53

Jakarta:- Pendukung Anies pun mempertanyakan kritik yang dilancarkan Romo Benny kepada Anies. Lantas kenapa hanya Gubernur Anies saja yang dikritik? Sebab musibah banjir tak hanya melanda DKI Jakarta. Sebagian wilayah Jawa Tengah, Banjarmasin, serta sejumlah kabupaten di Kalimantan Selatan pun dilanda banjir. 

Simak wawancara khusus Head of News Production Medcom.id Indra Maulana dengan Budawayan Pastor Antonius Benny Susetyo atau akrab disapa Romo Benny dalam program Newsmaker. 

Berikut wawancara lengkapnya:

Selamat sore Romo Benny. Salam sehat selalu?

Kabar baik. Salam sehat.

Setelah mengkritik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Anda dikritik balik oleh para pendukungnya. Bahkan Anda disebut “Romo Politik” karena dinilai tidak objektif. Bagaimana respons Anda setelah dituding sebagai “Romo Politik”?

Saya mengkritik apa? Kalau Anda tonton perbincangan saya di channel Rumah Kebudayaan Nusantara (RKN) Youtube itu tidak ada kritik. Saya ditanya anchor-nya mengenai apa yang baik di zaman itu (Ahok), saya menanggapi pertanyaan itu. Yang baik harus terus dilanjutkan seperti pengerukan sungai, perbanyak pasukan orange, melanjutkan pembangunan bendungan dan sodetan. Itu saja. 

Lalu media memberi judul lain, bahwa saya menyarankan agar Anies belajar ke gubernur sebelumnya yaitu Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Padahal tidak ada pernyataan seperti itu. Itu yang menafsirkan atau membuat judul adalah media yang mengutip, kenapa harus saya yang disalahkan? Makanya aneh orang yang menuduh saya Romo Politik, apa dasarnya? Padahal saya tidak masuk dalam struktur politik (parpol). 

Kalau mempersoalkan saya di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), di sana ada Buya Syafi'i Ma'arif, eks Ketum PP Muhammadiyah, Said Aqiel Sirodj, Ketum PBNU, lalu pendeta Andreas Siwangu, kemudian ada Ma'ruf Amin sebelum jadi Wapres RI dan ada Tri Sutrisno, Wapres RI era Soeharto. Saya disitu stafsus ketua dewan pengarah. Saya bertugas menjaga ideologi bangsa bersama-sama masyarakat untuk menyosialisasikan ideologi Pancasila. Ini tidak ada kaitannya. Saya diundang oleh RKN sebagai budayawan. Dari dulu saya diundang Metro TV sebagai budayawan.

Apakah jabatan Romo Benny di BPIP selalu diidentikkan dengan pro-pemerintah, sebab ketika mengkritik sebagai budayawan pun dikira mewakili pemerintah? 

Buya Syafi’i mengkritik juga enggak ada masalah. Saya enggak punya kepentingan politik. Sejak dulu saya enggak ditanya soal korupsi, sudah bicara soal korupsi. Sejak awal saya pendukung KPK. Saya orang yang tidak punya kepentingan apa-apa. Sejak dulu sampai sekarang saya tetap seperti ini. Lalu apa yang berubah dari saya. Saya menulis soal banjir sejak 20 tahun yang lalu. Dan itu sama, saya mempersoalkan mengenai keadaban dengan alam. 

Jadi yang saya persoalkan di sana pertama, prilaku manusia yang koruptif, dan manipulatif. Bagaiamana kita membangun keadaban alam itu supaya berdamai dengan alam. Jangan buang sampah sembarangan, memilah sampah basah dan kering. Kemudian bagaimana membangun ekosistem dalam menjaga kebersihan lingkungan. 

Lalu apa itu salah? Saya juga mengkritik bencana banjir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan karena akibat keserakahan. Saya juga menulis di opini. Saya juga tulis pada tahun 1997 yang lalu. Saya juga tulis dalam buku saya yang berjudul 'Keadaban Alam’. 

Sewaktu menulis dulu tidak ada reaksi seperti sekarang ini?

Ya, karena tidak ada yang memanipulasi. Judul itu dimanipulasi. Saya juga tidak pernah menasihati soal banjir ini. Saya ditanya anchor soal yang baik yang perlu dilanjutkan, saya bilang bahwa yang baik-baik dari pendahulunya harus diteruskan. Apakah itu salah? Saya mengatakan soal moral dan etika dan saya juga menulis buku soal etika moral dalam politik. Lalu apakah itu salah? 

Sebagai penulis buku mengenai keadaban alam, bagaimana menyikapi banjir agar tidak mudah menyalahkan alam? 

Kita ini bila terjadi bencana kerap kali menyalahkan alam. Semisal banjir karena curah hujan tinggi. Itu tidak bisa begitu. Kita ini manusia diberi akal dan budi oleh Tuhan agar bisa memprediksi. Semisal curah hujan diprediksi bakal begini atau merekayasa hujan seperti dilakukan BMKG agar hujan turun tidak di satu titik. Itu bisa dilakukan. Artinya kita harus bisa mengantisipasi. 

Seperti gempa bumi di Jepang. Mereka sudah terbiasa dengan gempa, tapi mereka melakukan antisipasi dan berhasil. Sehingga bila terjadi gempa, mereka sudah membuat berbagai macam skenario-skenario dan terus mengedukasi masyarakat menghadapi gempa. Saya sendiri sudah lama berbicara soal mengantisipasi bencana. Sudah 20 tahun lalu saya lakukan itu. Hari ini jadi aneh, karena sebagian orang sensitif dengan kritik. Saya jadi bingung juga fenomena ini. 

Jadi Anda tidak berniat mengkritisi Gubernur Anies? 

Enggak ada. Saya juga kenal baik dengan Anies dan seringkali bertemu. Saya sendiri biasa mengkritik termasuk kepada Ahok (Basuki Tjahja Purnama). Saya ini orang independen. Saya hanya mengatakan bahwa apa yang baik dari pendahulunya seharusnya tetap dilanjutkan dan yang kurang dikoreksi. Apakah semacam itu salah? 

Terkait legacy yang baik oleh pemerintahan sebelumnya namun tidak dilanjutkan saat ini apa?

Apa yang baik dan harus dilanjutkan oleh pemerintahan selanjutnya contohnya peninggalan Bang Yos (Gubernur Sutiyoso). Ada dari sisi waktu yang perlu diteruskan oleh gubernur seterusnya seperti penggantinya, Bang Yos, diganti Pak Foke, lalu dilanjutkan oleh Jokowi, kemudian dilanjutkan Pak Ahok. Dan apa yang harus dilanjutkan Anies, adalah membangun master plan. 

Bang Yos sudah membangun master plan, lalu kenapa banjir Jakarta kerap kali terjadi? Karena pada waktu Hindia-Belanda master plan itu tidak diteruskan saat mereka hengkang dari republik ini. Master plannya sudah ada, seperti membangun sodetan, waduk-waduk, lalu bagaimana diselamatkan karena tanah mereka makin hari semakin miring atau turun. Hal itu butuh diantisipasi. Karena ini wajah ibu kota. Korsel saja bisa mengatasi. Mereka membangun.

Bukan karena Romo Benny ada di BPIP. Apakah merasa seperti itu sekarang? 

Iya enggaklah. Di situ ada Buya Syafi'i, Pak Tri Sutrisno, Said Aqil Sirodj, dulu ada Prof Mahfud MD, dulu ada Ma'ruf Amin dan sekarang wapres, ada Pak Andreas Wangu, Ada Pak Sudhamek dan Pak Wisnu Bawa Tenaya serta tokoh-tokoh lain. Seperti tokoh lintas agama di situ (BPIP) semua. Kemudian, apakah karena saya di BPIB lalu tidak boleh berbicara, enggak bisa. 

Saya akan tetap menulis, dan saya akan memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara. Karena ini sebagai dealektika seperti dulu. Seringkali saya diundang dan bicara apa adanya. Tidak pernah menutup-nutupi. Sampai sekarang juga saya masih tetap menulis di media massa. Dan setiap hari ditanya wartawan lalu saya enggak boleh bicara. Kan repot. 

Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pengkritik saat Anda dilebeli dengan Romo Politik?

Politik itu apa? Kalau kita bicara politik sebagai warga negara adalah mengenai partisipasi menjaga kota agar kota ini menjadi baik. Politik itu bukan saja tentang merebut kekuasaan. Kalau politik praktis, orang masuk dalam parpol kemudian dia merebut kekuasaan. Menyalonkan diri jadi capres, caleg, atau calon DPD, itu baru politik. Kalau politik menyuarakan suara hati itu hak setiap orang. 

Kesimpulannya Anda keberatan dipanggil Romo politik? 

Tergantung definisi politiknya dulu. Karena politik itu untuk kebaikan umum. Politik itu dari kata polis. Bila kita bicara politik, adalah setiap warga negara dalam mengatur kotanya. Lalu kenapa enggak? Tapi Anda tahu sendiri mengenai pelabelan itu. Kalau dibahas hanya menghabiskan energi. Biarkan saja. Anggap hal itu sebagai pencarian dan ini alam demokrasi. Tapi demokrasi itu dimensinya adalah etis. Istilah Gus Dur, gitu aja kok repot.

Pendukung Gubernur Anies mempersoalkan tentang pernyataan Anda mengenai saran agar Anies belajar dari Ahok untuk menangani banjir. Pendapat Anda bagaimana? 

Iya, dia berarti tidak menonton channel youtube saya. Di Youtube saya tidak bicara spesifik soal banjir. Coba lihat channel youtube, saya tidak pernah membanding-bandingkan Ahok dengan Anies. Saya tidak mengeluarkan pernyataan agar belajar dari Ahok. Itu judul di sebuah media, sementara saya sendiri tidak bisa mengontrol semua media. Apalagi setiap media memiliki konstruksi sendiri-sendiri. Yang memberi judul itu memiliki tujuan agar medianya laku. 

Kalau saya diminta pasti keberatan. Saya tidak pernah tahu judulnya, dan pasti bermacam-macam tanpa konfirmasi saya. Itu bagi saya hak media karena itu memotret. Tapi kalau membaca utuh arahnya tidak ke situ. Karena yang saya katakan adalah mengenai keadaban alam. Manusia janganlah serakah, tapi manusia mencintai alamnya, bagaimana manusia merawat bumi ini. Itulah pesannya. 

Kalau kita bicara keadaban alam itulah buah gugus Einstein yang mempengaruhi cara bertindak dan relasi manusia. Supaya manusia itu mampu berdamai dengan alam. Jangan rusak alam ini. Maka jaga lingkungan, kebersihan, ekosistem, selokan harus dibersihkan jangan buang sampah sembarangan. Banjir terjadi kebanyakan akibat sampah. 

Kembali ke soal banjir, Gubernur Anies mengklaim berhasil menangani banjir. Menurut Romo Benny Jakarta saat lebih tanggap menangani banjir?

Kita harus memiliki master plan yang menyeluruh dan utuh. Bagaimana master plan utuh, sementara DKI ini punya kota-kota penyangga. Makanya saya katakan dalam channel youtube di zaman Hindia-Belanda kawasan puncak betul-betul dijaga. Maka kita harus mulai kembali mengembalikan ekosistem kota-kota penyangga. 

Maka harus sinergi pemerintah pusat, Pemda dan daerah tetangga untuk membangun secara keseluruhan. Karena itu tanggung jawab keseluruhan secara utuh. Di sini pentingnya politic will bersama. Tidak sektoral lagi. Itu yang saya katakan master plannnya. 

Artinya kita belum punya master plannya?

Ya ada. Tapi politic will untuk menjalankan bersama, duduk bersama, musyawarah bersama untuk sepakat. Makanya itu perlu. Sekarang tidak usah saling menyalahkan. Ayo sekarang mengantisipasi bagaimana caranya sekarang supaya Jakarta tidak lagi banjir lagi. Karena gubernur itu bisa berganti kapanpun. 

Yang penting saat ini adalah master plannya?

Iya, yang penting master plannya bersama kepala daerah, pemerintah pusat dan kota penyangganya. Ayo kita kerjakan. Jadi waduk-waduk yang dikerjakan diteruskan. Sodetan diteruskan, bangun drainase, sistem pengairan dibangun, dan reboisasi daerah penyangga harus dilakukan juga. Ini menyangkut prilaku manusianya. Kalau prilaku manusianya masih buang sampah sembarangan, tidak disiplin, selokan ditimbunin sampah, kemudian pengerukan tidak jalan, lalu pembangunan menyimpang dari tata perencanaan kotanya, dan itu terjadi. Itu yg harus ditertibkan. Sebenarnya jangan bicara secara sektoral. Bicaralah secara utuh dan menyeluruh, bagaimana keadaban alam itu menjadi habitus bangsa ini. 

Apakah dari tahun ke tahun Pemprov DKI melakukan hal itu?

Ya menurut saya gubernur-gubernur sebelumnya melakukan hal itu dan sampe sekarang. Tapi yang sekarang harus lebih dipercepat dan dioptimalisasi. Karena apa? Karena kita menghadapi sebuah era dalam situasi ini adalah cuaca ekstrem ini. Mari kita belajar dari Korsel. Korsel mampu melakukan itu karena membuat sistem drainase dalam bawah tanah. Sehingga kota di Korsel relatif bebas dari banjir. 

Ini sebuah upaya, untuk melakukan itu manusia butuh berikhtiar. Karena Tuhan memberikan kemampuan akal budi. Apa yang tidak bisa dilakukan dengan teknologi, semua bisa direkayasa. Termasuk cuaca bisa ditekayasa. Maka disitulah pentingnya antisipasi. 
 

Publik disuguhi pernyataan konyol seperti banjir Jakarta terjadi di akhir pekan bukan di hari kerja serta air dialirkan ke tanah bukan ke laut. Bagaimana pendapat Anda sebagai budayawan? 

Anda ini menyerempet-rempet (ke Gubernur Anies). Saya ingin mengatakan begini. Semua manusia itu diberi rasionalitas oleh Tuhan. Yang penting rasionalitas itu bisa dihitung dan terukur. Gunakanlah ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan banjir. Jadi bagaimana penyelesaiannya? Ya jawabannya adalah membuat sodetan, bendungan, bangun sistem drainase. 

Maka salah satunya contohlah Korsel (Korea Selatan). Saya tidak mau berpolemik, saya ingin mengatakan contohlah yang sudah ada dan sudah berhasil. Karena ilmu pengetahuan mempelajarinya, dan ilmu pengetahuan itu rasional. 

Anda tadi menyebut master plan. Apakah itu sudah disusun? 

Sudah ada. Mulai kepemimpinan sebelumnya, sejak Pak Ali Sadikin sudah ada. 

Anda tadi menyinggung soal political will. Apa susahnya dari political will itu? Apa evaluasi dari Romo Benny?

Ini menurut saya masing-masing kepala daerah harus saling melengkapi satu sama lain. Kita perlu belajar sinergi dan kerja sama. Karena semua kepala daerah memberi sumbangsih terhadap itu. Tinggal dilakuan dan dilanjutkan. Yang penting kedepannya adalah pembangunan terencana. 

Mengapa hal itu tidak pernah bisa dilakukan? 

Karena kita tidak mau sebuah pembangunan berkelanjutan. Dulu zaman Soeharto dengan segala kekurangannya punya Garis Besar Haluan Negara (GBHN), di situ ada program 5 tahunan, kita ingat trilogi pembangunan. Bagaimana pembangunan itu ditata. Kita butuh itu. Supaya setiap pergantian itu tidak lagi selera politik tapi tetap dilanjutkan karena program yang kontinyu. 

Jadi jawabannya adalah menghidupkan kembali GBHN?

Iya. Itu salah satunya. Ini sebuah usulan, tentu boleh saja. GBHN itu sebatas memberi arahan atau haluan selama 25 tahun? Semisal selama 25 tahun kita harus punya bendungan. Berapa jumlah bendungannya? Itu tergambar jelas. Sehingga efeknya kerasa dan kontinyuitasnya ada. 

Kalau enggak begitu akhirnya tergantung selera. Iya itu enggak salah. Karena tidak ada sesuatu yang mengikat. Jadi memang kita membutuhkan refleksi. Mengapa? Karena tidak ada perencanaan pembangunan yang kontinyu. 

Ini menurut saya jadi sebuah refleksi untuk memiliki sebuah pembangunan jangka panjang. Kalau 50 tahunan terlalu jauh, tapi 25 tahun saja. Sehingga ketika pergantian kepemimpinan, siapapun pemimpinnya, mau dari partai manapun sehingga memiliki sesuatu yang baik. Yang baik dilanjutkan dan yang kurang ditambahin. Sehingga tidak tambal sulam. 

Lalu bagaimana dengan niat bekerjanya sebagai kepala daerah?

Pemimpin itu pelayan publik. Karena pelayan publik maka dia harus memperhatikan kesejahteraan publiknya. Ini yang agak berat dalam kondisi demokrasi saat ini. Jujur demokrasi sekarang ini cost (biaya politiknya)-nya terlalu mahal. 

Ini yang menyebabkan orang ingin beda dengan yang lain. Karena terlalu mementingkan personalitisasi pada visi pribadi. Padahal kalau kita ingin bangsa maju harusnya berpaku pada visi negara bukan visi pribadi. Ini yang kedepan kita harus mulai belajar banyak. 

Refleksi dari keadaban alam, kita membutuhkan negarawan-negarawan yang tidak lagi mementingkan dirinya sendiri. Sehingga kalau kita bicara filsafat Socrates dan Plato, pemimpin itu bukan prajurit, bukan juga pengusaha, tapi filsuf. Filsuf itu negarawan yang sudah selesai dengan dirinya dan mampu berpikir luas dan mampu mementingkan kesejahteraan umum. 

Mungkin karena belum jadi Presiden? 

Ini bukan persoalaan jadi presiden atau tidak. Semua orang bisa jadi negarawan. Dan itu banyak. Kalau Anda lihat acaranya Kick Andy, Andy Noya banyak negarawan-negarawan yang tidak menjabat di kekuasaan. Itu negarawan.  Banyak dari mereka lebih memperhatikan kepentingan bersama untuk rakyatnya dan berjuang untuk rakyatnya. Nah, ini yang seharusnya ada disetiap insan masyarakat Indonesia dan itulah yang disebut insan Pancalisa, 

Sama-sama terjadi banjir di setiap era kepemimpinan di Jakarta dari yang sebelumnya sampai sekarang. Tetapi era sebelumnya terlihat kerjanya seperti melakukan normalisasi. Sementara yang sekarang kerja-kerja normalisasi tidak kelihatan sama sekali. Pandangan Anda seperti apa?

Masyarakat lebih tahu dan mereka lebih bisa memotret hal itu. Dan itu yang dipotret sebagai realita masyarakat yang dipahami. Tapi sebagian masyarakat juga bisa berbeda. Itulah persepsi. Yang mengatakan persepsi itu wajar-wajar saja. Tapi pada akhirnya yang bisa menilai adalah suara hatinya. 

Saya bekerja atau tidak adalah suara hati. Suara hati saya tidak bisa menipu diri saya. Karen suara hati itu adalah suara paling terdalam, orang beriman memiliki suara hati akan mengalami kepekaan. Itu merupakan jawaban. Tapi kalau persepsi itu tergantung dari sudut pandang orang dan konstruksi orang serta tergantung orang melihatnya. 

Kalau saya melihatnya akhirnya dikembalikan apakah Anda memiliki suara hati atau enggak? Suara hati ini yang akhirnya mampu memiliki tabularasa. Itu yang kita butuhkan sekarang. Jadi dari peristiwa ini kita belajar tentang bagaimana keutamaan manuasia dalam mengolah alamnya. 

Bagaimana manusia tidak serakah, tidak mengeksploitasi alam dan bagaimana manuasi mencintai alamnya dan ini harus dimulai dari pendidikan sejak dini. Dan itulah yang seharusnya menjadi kesadaran publik bersama. 
 

Akibat banjir ini Anies mengganti Kepala Dinas SDA dengan seorang pejabat yang dulu pernah mendapat pujian di era Ahok. Menurut Anda apakah langkah ini adalah bagus?

Tentu ini langkah baik dan ini positif. Berati political will-nya sekarang adalah ingin mendengarkan suara publik. Dan ini terjadi suara publik tidak ditinggalkan. Jadi pentingnya suara publik di sini. Publik itu bersuara untuk mengontrol agar ada sebuah perbaikan. Kritik itu membangun, dan kritik itu berbeda dengan fitnah dan ujaran kebencian. 

Kritik itu berbeda dengan menghancurkan karakter orang. Kritik itu berdasarkan fakta dan data dan orang menyuarakan keprihatinannya. Seperti surat pembaca, itu adalah kritik. Jadi menurut saya kita akui pemerintah sekarang serius dengan mau mencari orang-orang yang tepat untuk posisinya. 

Katanya Romo Benny mengkritik juga soal banjir Semarang. Seperti apa kritiknya?

Sama juga. Karena kesalahan tata kelola alamnya dan itu diakui gubernurnya. Gubernur mengatakan, saya yang salah. Dia sudah mengakui, kalau sudah mengakui masak kita harus menyalahkan lagi. Sementara dia sudah mengakuinya. Artinya dia akan mencoba untuk memperbaikinya. Menurut saya kedepan harus ada jiwa kesatria dari setiap orang yang mengakui kekurangannya dan itu wajar. 

Jangan justru menyalahkan alam?

Iya. Alam ini sejak awal ya begitu. Hujan dari dulu ya begit. Tapi manusia punya cara untuk mengalihkan. Makanya muncul namanya pawang hujan. Itu cara mengalihkan agar hujannya enggak kesini tapi kesana. Tuhan memberi manusia kemampuan. Rekayasa cuaca. Teknologi punya kemampuan itu. 

Jangan sampai menyalahkan alamnya. Seperti gempa bumi Jepang, masak mau menyalahkan gempa bumi. Ya manusia mati semua. Tapi dengan kecerdasan teknologi, peringatan dininya, dan membiasakan masyarakat ramah untuk gempa bumi, korban bisa diperkecil. 

Saya katakan begini, setiap peristiwa dahsyat apapun, Tuhan telah menciptakan kepada manusia kemapuan akal budi. Dan akal budi yang diberikan Tuhan kepada Manusia untuk menyelesaikan semua problem kehidupan ini. 

Bicara keadaban alam, kritik ini ditujukan kepada semua kepala daerah. Tapi ada reaksi balik, syok enggak dikritik balik?
 
Enggaklah. Saya hampir separuh abad ini menulis opini, saya akan tetap menulis. Tetap bersuara. Karena selama ini saya tidak pernah menghancurkan karakter orang, tidak pernah menyudutkan, bukan SARA, tidak pernah merusak nama baik orang, kenapa saya takut? Wong saya tidak pernah membanding-bandingkan. Jadi siapa yang memberi judul? Ya media sendiri. Saya tidak mengatakan itu. 

Maka lihatlah channel Youtube saya di RKN. Saya diundang untuk berdiskusi, setiap hari saya diundang oleh anak-anak untuk berdiskusi, diundang berbicara. RKN itu adalah kumpulan anak-anak aktivis. Biacara apapun dengan berbagai budayawan. Masak undangan saya tolak, kan repot. Di mana-mana saya diundang sebagai pembicara politik, korupsi dan lain-lain. Dan perspektif saya memang tentang ekologi. Saya juga pegiat lingkungan hidup. 

Masalah pengungsi di DKI saya aktif dampingi. Konflik Ambon-Poso saya aktif. Kalau dituduh saya tidak bicara korupsi aneh. Wong tulisan saya hampir tiap hari bahkan ratusann tulisan bicara soal korupsi. Ya biasa, ini risiko. Bagi orang bijak harus bisa memilah-milah dan dicek dulu.(ADN/BM)