Berita

Refleksi 62 Tahun Pidato Sukarno di PBB: BPIP Dorong Mahasiwa Jadi Agen Perubahan Pembumian Pancasila dan Pembangunan Bangsa

BY Humas . 1 Oktober 2022 - 15:56

Jakarta:-Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan Seminar dengan tema "62 Tahun Pidato Sukarno di Sidang Majelis Umum PBB dan Relevansinya dalam Pembangunan Bangsa-Bangsa" di Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia Jakarta, Jum'at, (30/9).

 


Sekretaris Utama BPIP Dr. Adhianti, S.I.P., M.Si menyampaikan mengenai perlunya mahasiswa memahami pidato Bung Karno di depan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SMU PBB) di New York, Amerika Serikat yang berisikan pandangan Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, terhadap dunia.

 


"Pidato  Bung Karno dengan judul “To Build The World A New” atau “Membangun Dunia Kembali” pada tanggal 30 September 1960, memiliki arti penting dalam memahami pandangan Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, terhadap dunia", ujarnya saat menjadi keynote speaker.

 


Menurutnya tepat hari ini, 62 tahun silam, Bung Karno berkesempatan menyampaikan gagasannya yang telah menggemparkan dunia, di depan para pemimpin-pemimpin negara di PBB.

 


"Bung Karno menyampaikan pidatonya dengan penuh semangat dan berapi-api, mengupas sistem atau konsep yang dibangun oleh barat selama berabad-abad serta dampaknya pada keberlangsungan dunia", paparnya.

 


Bung Karno menggunakan kesempatan berpidato di SMU PBB melawan konspirasi negara barat yang telah menguasai dunia dan membawa ketidakteraturan negara-negara di dunia dengan suasana konflik yang diciptakannya.

 


"Konflik yang berkepanjangan dari masa Perang Dunia I, Perang Dunia II, kemudian memasuki era Perang Dingin, yang sebenarnya hanyalah perang di antara mereka yang memperebutkan lahan ekonomi", paparnya.

 


Dengan demikian, pandangan Bung Karno untuk menyerukan perdamaian dunia sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi tawaran yang dibalut dengan istilah To Build The World A New.

 


"Artinya, dengan istilah itu maka ada suatu rumusan bilamana dunia ingin damai, maka hanya Pancasila yang dapat dijadikan konsepsi bukan konsepsi seperti Kolonialisme dan Imperialisme", jelasnya.

 

 

Di hadapan Sidang Majelis Umum PBB, Bung Karno menyebut Pancasila menjadi suatu kebenaran universal yang dapat diterima oleh setiap bangsa.

 


"Di hadapan delegasi bangsa-bangsa di SMU PBB, Bung Karno menguraikan secara detail dan seksama sila per sila dari Pancasila", ucapnya.

 


Sementara itu Dewan Pakar Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri BPIP, Dr. Darmansjah Djumala, M.A mengatakan di tengah dunia yang terus dilanda konflik, baik yang berlatarbelakang teritorial maupun etnik dan agama, diplomasi Pancasila perlu dikembangkan.

 


"Indonesia pernah ikut kontribusi dalam upaya meredakan konflik di beberapa negara, seperti Kamboja, Filipina, Myanmar dan Afghanistan", ujarnya.

 


Ia mengatakan 62 tahun setelah pidato Sukarno di SMU PBB, tatanan pemerintahan global dan isu-isu keamanan telah berubah, nqmun Indonesia tetap kokoh karena Pancasila.

 


"Negara adidaya pemimpin blok Timur, Uni Soviet, bubar tidak lama setelah berakhirnya Perang Dingin, diikuti dengan pecahnya negara-negara blok Timur lainnya seperti Cekoslovakia dan Yugoslavia menjadi beberapa negara tetapi Indonesia tetap kokoh dengan Ideologi Pancasila", tegasnya.

 


Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Prof. Dr. rer. net. Abdul haris menyambut baik kerjasama BPIP dengan Universitas Indonesia untuk melakukan kegiatan seminar, sebagai bagian untuk membuka wawasan global mahasiswa.

 


"Ini adalah sebuah kehormatan bagi kami karena sudah melibatkan mahasiswa kami dalam acara ini", ujarnya.

 


Ia berharap dengan kegiatan seminar tersebut, mahasiwa UI khususnya Sekolah Kajian Stratejik dan Global dapat menyerap dan mengimplementasikan ilmu-ilmu yang disampaikan narasumber.

 

 

"Ini adalah momentum kita bersama untuk mengingat sejarah perjuangan para pendiri bangsa dalam membumikan Pancasila", tutupnya.

 

 

Sementara itu Direktur Pengkajian Materi BPIP Aris Heru Utomo, S.H., MBA., M.Si yang menjadi salah satu nara sumber menyampaikan bahwa momentum kegiatan Seminar memperingati 62 tahun Pidato Bung Karno di PBB sangat relevan dengan pembangunan bangsa-bangsa saat ini.

 

 

“Mahasiswa dapat mencontoh sikap percaya diri Bung Karno dalam berpidato di PBB, khususnya terkait gagasannya untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi alternatif dan upaya mendorong perdamaian dunia,” papar Aris.

 

 

Menurut Aris, sejak muda Bung Karno telah membekali dan menempa dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan melalui bacaan-bacaan dan berdiskusi dengan cendikiawan dan tokoh-tokoh pergerakan sejak tinggal di rumah kos HOS Tjokroaminoto di Surabaya.

 

 

"Mahasiswa yang rata-rata masih berusia relatif muda, kiranya dapat mencontoh kerja keras dan keteladanan Bung Karno dalam memahami situasi nasional dan global. Bung Karno telah mempersiapkan dirinya sejak muda,” ujar Aris.

 

 

“Mahasiswa dapat pula menjadi agen perubahan dalam pembumian Pancasila dan pembangunan bangsa", tegas Aris.

 


Lebih lanjut Aris mendorong agar hasil dari seminar ini tidak hanya sekedar sebagai pengetahuan, tetapi juga dapat diaktualisasikan  dalam berkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (ER)