Berita

Pojokan 111, Hijriah

BY Humas . 3 Agustus 2022 - 10:28

Mundus telah sampai kembali pada titik awal perjalannya. Titik awal yang diimaginasikan. Bukan akhir perjalanan semesta. Akhir perjalanan mengitari matari dalam bilangan tahun. Didasarkan atas surup dan terbitnya sang baskara, sebagai hitungan putaran mundus mengitari matari, sang baskara. Perjalanan putaran waktu dalam hitungan Hijriah atau Masehi.
 
 
Putaran mundus mengitari matari yang disebut sang waktu, terus berjalan dan tak pernah berhenti.  Baskar itu menjadi titik tumpu para pengikut mentari menjalankan ritual tawafnya,  selama bilangan hari yang bertemu menjadi bulan dan berbuah tahun. Dititik itu, waktu tak berubah.
 
 
Yang berubah itu adalah makhluk, penghuni mundus, bumi manusia. Sebab dalam putaran waktu, penghuni terikat hukum alam dan waktu. Tak hanya biologis dan psikologis, pun kedewasaan. Kedewasaan yang lahir dari bercermin. Bercermin pada waktu, pada keadaban diri. Keadaban pada tetangga, kerabat, teman, sesama, amanah, pekerjaan dan negara. Tak lupa keadaban pada Tuhan yang disembah. Bukan sesembahan yang berujung pada pemenuhan syahwat.
 
KH. Mustofa Bisri alias Gus Mus menyebut dalam puisinya:
 
”Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi. Hanya budak perut dan kelamin”.
 
 
Keadaban itu bukan sekedar manggut-manggut, tercenung dari merasa memikirkan sesama yang kelaparan. Keadaban lahir dari kebeningan jiwa sebagai cermin. Memantulkan gambaran diri apa adanya. Juga proyeksi akan apa yang harus dicapai dalam prosesi pengalaman hidup yang tak instan. Direnungi untuk ditemui makna. Makna akan waktu yang membingkai hidup dan memengaruhi keadaban.
 
 
Kesadaran akan waktu menjadikan diri kita awas.  Bahwa tak ada yang abadi dalam sifat biologis dan syahwat. Ketakabadian yang menjumput perubahan. Perubahan yang menjadi keharusan dan menggilas yang tak berubah. Yang tak berubah hanyalah sang waktu. Memaknai itulah  yang menjadikan perubahan itu memberi arti. Walau tak semua harus memiliki arti atau berarti. Sebab yang berarti hanya tergantung sudut pandang dan kepekaan. Kepekaan untuk menangkap makna dibalik pengalaman hidup yang dijalani dalam waktu tertentu. Kepekaan untuk menempatkan diri pada titik perubahan yang tepat. Menunggangi waktu. menuju titik awal kembali yang disebut tahun baru.

“Kawan,sudah tahun baru lagi”,
“Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri”
“Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya”
Gus Mus mengingatkan kita di setiap awal tahun.
 
 
Hijriah atau masehi tak peduli. Jika waktu adalah kumpulan rutinitas tanpa makna. Sebagian besar hidup kita adalah sekedar waktu rutinitas. Kita hanya mengingat apa yang dicapai pada waktu lalu. Memroyeksi apa yang harus diraih diwaktu yang akan datang. Sebagai inti dari indikator keberhasilan. Keberhasilan yang tak pandang bulu dengan cara apa dan pada siapa. Sesiapa yang kadang tak perlu tahu siapa dia. Yang pasti, hanya Dia yang menentukan sesiapa memiliki arti dan berarti bagi siapa. Selama dia bercermin pada firman-Nya. Bukan firman siapa yang didaku padu, tundukan diri.
 
 
Hijrah adalah jalan sunyi. Jalan sunyi untuk terus bercermin pada keadaban diri. Keadaban yang memancar dari kebeningan hati, bercermin pada firman-Nya.  Hijrah menunggangi waktu yang tak pernah berhenti. Namun kita tetap membutuhkan sejenak waktu untuk berhenti dan tempat berhenti. Berhenti untuk melihat kedalam diri dan sekitar. Atas laku lampah dan wicara terhadap diri dan sesama. Membuncahkan ke dalam kesadaran akan kebermanfaatan dan keadaban untuk kehidupan. Kehidupan saat ini adalah tempat berhenti untuk merenungi laku lampah diri selanjutnya.Selamat tahun baru hijriah 1444 H.
 
Oleh: Kang Marbawi, Senin, (01/08/22)