Berita

Pojokan 99,Klepon (2)

BY Humas . 23 Mei 2022 - 11:10

Jakarta:- Makanan berbentuk bulat dengan warna hijau, bertabur parutan kelapa yang gurih itu ternyata telah bertahan sejak tahun 1950. Apalagi saat digigit, lelehhan gula merah memenuhi mulut. Melahirkan sensasi manis khas yang sederhana. Nimpuno penulis buku “Nostalgia Kue Tenong (2016)” menulis, tekstur klepon yang kenyal dengan isi gula mempunyai makna bahwa terkadang sesuatu yang alot akan terasa manis di kemudian hari sesuai dengan usaha yang dilakukan.
 
Klepon, bagi masyarakat bawah bukan sekedar kudapan ringan atau jajan pasar. Klepon adalah simbol sebuah identitas. Simbol filsafat hidup ulet yang berbuah manis. Ya, Klepon adalah  sebuah simbol atau lambang keuletan, kesederhanaan, ketahanan dan juga perlawanan. Food as an emblem begitu kata Jacinthe Bessire dalam buku Local Development Heritage: Traditional Food and Cuisine as Tourist Attractions in Rural Areas (1998).
 
Klepon adalah lambang tradisi sebuah entitas budaya. Dalam banyak bentuk dan warna Klepon menjelma menjadi Onde-Onde atau Buah Melaka di Sumatera, Sulawesi, dan Malaysia. Panganan tadisional di manapun di pojok dunia adalah lambang tradisi dan perjalanan sejarah sebuah kearifan budaya lokal. Dan Klepon pun di terdapat di outlet Blanda dan negara Eropa lainnya, dibawa oleh imigran Indonesia.
 
Pada masanya, Klepon dan ratusan ribu (mungkin jutaan) kudapan tradisional lainnya, menjadi Food as a sign of communion, hidangan sebagai tanda kebersamaan dan kehangatan. Dimana kudapan dibagikan dan dimakan secara bersama dengan keluarga dan komunitas. Melahirkan kehangatan, persatuan, gotong royong dan saling berbagi. Lihat saja beberapa tradisi kuliner berjamaan beberapa golongan masyarakat. Nasi Tumpeng, Makan Bancakan, Megibung di Bali, Manre Sappera di Sulawesi Selatan, Makan Patita di Maluku. Tradisi makan Bersama atau berjamaah ini menguatkan ikatan sosial-traidisional.
 
Sayangnya, Klepon dan kudapan tradisional lainnya mulai tergantikan dengan model kudapan sebagai gaya hidup, food as life style. Maraknya caffe-caffe yang menawarkan food as symbol (makanan sebagai simbol kelas sosial). Model makanan yang berada di tempat seperti ini, mendorong fantasi nilai kelas sosial. Dan lagi-lagi model kudapan Klepon dan jajan pasar, tidak banyak dilirik sebagai sebuah simbol life style dan kelas sosial.
 
Ya, Klepon dan kudapan lainnya hanya kudapan sederhana. Namun dalam Klepon terdapat sebuah rangkuman filosofi dan sejarah panjang sebuah tradisi. Yang mentrasmisikan sebuah situasi dan nilai sebagai sebuah tanda sejati sebagai sebuah alat komunikasi.
 
Klepon dan kudapan lainnya tak hanya bernilai kudapan. Dia harus menjadi bagian dari perjalanan sejarah tradisi. Padanya terdapak nilai komodifikasi sosial dan pertarungan sosial. Bahkan kadang secara ekstrim, menjadi komodifikasi agama.
 
Klepon dan kudapan lainnya membutuhkan sentuhan branding. Sebab dari rasa, tak pernah kalah oleh kudapan-kudapan import dari negeri manapun. Klepon dan kudapan lainnya bisa menjadi food as a class marker, makanan sebagai penanda kelas. Seperti champagne atau wine. Klepon bukan sekedar kudapan atau jajan pasar. Klepon adalah warisan kuliner. Sebagai sumber inisiatif lokal yang menjadi salah satu faktor pembentukan kontruksi identitas territorial.
 
Sebagai sebuah warisan tradisi, maka Klepon memiliki ideologi konservasi untuk menjaga kontinuitas, keabadian, stablititas serta reproduksi tradisi. Berhadapan dengan kudapan yang dianggap modernitas, yang berbalut skisma -pertentanga, perubahan, dinamisme, kreasi dan kontruksi sosial-kelas. Modernitas yang melahirkan disrupsi budaya. Sebuah situasi perubahan dan kegamangan identitas budaya individu dan masyarakat. Tercabut dari akar budaya/tradisi lokal. Dalam konteks heritage, Klepon mendorong ideologi adabtasi terhadap situasi baru dan melahirkan inovasi. (ER)
 
Oleh: Kang Marbawi, Jakarta, (21/05/22)