Berita

Pojokan 98, Urf-Hanif

BY Humas . 23 Mei 2022 - 10:59

Jakarta:- Agama bukan melulu soal ibadah. Agama bukan melulu soal kesalehan ritual dan spiritual. Agama bukan ajaran kerahiban, yang menyendiri, mengasingkan diri dan memisahkan diri dari dunia realitas. Justru pemuluk agama harus hadir untuk bersama-sama menghadirkan nilai-nilai welas asih Yang Maha Pencipta yang dirasakan segala makhluk. Juga mengasah diri untuk selalu mencari kebenaran.
 
Seperti halnya Rasulullah Saw, yang mensomasi Utsman ibn Mazh’un Ketika di tinggal di rumahnya sepanjang waktu untuk beribadah.
 
“Wahai Utsman, sesungguhnya Allah tidaklah mengutusku dengan ajaran kerahiban” (Nabi bersabda demikian dua-tiga kali, lalu ber­sabda lebih lanjut), “Dan se­sung­guhnya sebaik-baik agama di sisi Allah ialah al-hanifiyyat al-samhah (semangat pencarian kebenaran yang lapang)”.
 
Semangat pencarian kebenaran adalah nilai dasar dari agama. Tanpa mendewakan kebenaran sepihak. Itulah jalan kaum hanafiyah, Hanif juga bisa diartikan sebagai berpaling dari keburukan dan condong pada kebaikan; atau orang yang hanya cenderung pada kebenaran. Ajaran Islam yang hanif atau al-hanifiyyat al-samhah, yaitu sikap merindukan, mencari, dan memihak kepada yang benar dan baik secara lapang. Itulah agama hanif yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Diturunkan kepada nabi-nabi sesudahnya.
 
Formalisme agama dalam bentuk ritual dan simbol tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang hanif. Membatasi diri kepada hal yang ritual-formalistik, mereduksi tujuan agama yang hakiki. Mencari keselamatan diri, keluarga dan orang-orang lain (tanpa membedakan suku, agama, etnisitas) untuk meraih kebahagiaan adalah esesi beragama.
 
Agama bukan diukur dari kesalehan ritual-simbolik. Jalan agama adalah menghadirkan pribadi yang lebih welas asih, berpikir sehat, adil, humanis, bertanggungjawab dan beretika. Bukan jalan egoisme atau narsisme keagamaan individu. Begitu kata Dalai Lama, pemimpin Tibet. Dan hal itu diraih dengan perbuatan welas asih dan kesalehan sosial.
 
Jalan hanif adalah bagian dari hukum alam atau sunnatullah. Sunnatullah juga mencakup urf. Urf atau tradisi-adat, secara etimologi berarti “yang baik” yang dikerjakan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan atau habitus. Urf  dalam konteks sosiologis merujuk kepada sesuatu yang telah dikenal dan sudah menjadi tradisi orang banyak, baik berupa pekerjataan, perbuatan yang disepakati bersama oleh satu masyarakat serta dianggap “baik”.
 
Urf yang telah disepakati bersama menjadi konsensus yang melahirkan sistem sosial. Secara sosiologis, urf atau tradisi -pada entitas apa pun, pada dasarnya memiliki nilai universal terkait, tanggungjawab, saling menjaga komunitas, lingkungan, welas asih, kemanusiaan,, konsensus etika bersama untuk malahirkan  keadilan, kesajteraan, kebahagian dan keteraturan bersama. Inilah yang seharusnya menjadi konsensus.
 
Nilai universal itulah bagian dari sunnatullah. Agama yang hanif memiliki nilai universal sunnatullah. Urf tak bisa dipaksakan. Namun masing-masing entitas harus menghargai urf atau tradisi kelompok lain. Konsensus tradisi/urf  juga tidak mendorong formalisme. Namun lebih kepada menjaga tradisi nilai yang hanif dan tak bertentangan dengan agama. Disinilah peran agama memberi ruang kepada jalan hanif yang ada pada urf atau tradisi. Setiap urf memilikinilai universal sebagai bagian dari sifat hanif -cendrung pada keselamatan dan kebenaran, manusia. Urf yang seperti ini tak bisa dibid’ahkan, karena tak ada dalam tradisi nabi.
 
Urf  tak bisa dikaitkan dengan geografis tertentu. Termasuk Makkah atau Madinah. Urf adalah lokalitas. Nilai universal lah yang menentukan dasar dari sifat urf yang hanif. Semangat ritual-formalistik beragama bisa jadi akan memandang sebelah mata terhadap tradisi. Padahal kita hidup dalam tradisi lokal yang harus kita rawat. Selama tradisi itu tak bertentangan dengan nilai universal dan agama. (ER)
 
Oleh: Kang Marbawi, Jakarta, (13/05/22)