Berita

Pojokan 97, Penanda

BY Humas . 23 Mei 2022 - 10:53

Jakarta:- Semua makhluk Tuhan, hatta yang ghaib pun, menyampaikan “tanda” sebagai bagian dari interaksi dalam kehidupan sosialnya. Bahkan Agama menjadi cluster religious-sosial yang memiliki banyak “tanda” sebagai “penanda”. Kemunculan “tanda” itu memiliki sebab, maksud, tujuan, dan bentuk khusus pada setiap interaksi. Tak selalu sama “tanda” sebagai “penanda” dalam setiap interaksi. Walau biasanya sama.
 
Hanya saja, tak banyak yang bisa menangkap “tanda” tersebut. Kebanyakan mengabaikan “tanda” yang sudah di depan mata atau salah mengartikan “tanda” atau memang tak memahami  “tanda”  atau tak tahu ada “tanda” tersebut. Ada makna terselubung (latent meaning) dalam setiap “tanda” sebagai “penanda”. Imagi akal atau pikiran kitalah yang menangkap “tanda” dalam berbagai bentuk citra -signifier, untuk diinterpretasikan sebagai “penanda”. Melahirkan kesan dalam pikiran kita terhadap apa yang ditangkap.
 
Bukan hanya kepekaan indrawi dan akali, tuk menemukan makna terselubung. Kepekaan ruhanilah yang menjadi penuntun parole -praktek ujaran yang bersifat individu pada saat tertentu, untuk menemukan “kesan” makna terselubung.
 
Seperti halnya lebaran. Dia adalah penanda bagi yang berpuasa. Penanda telah usainya kewajiban berpuasa sebulan penuh dengan syarat tertentu. Penanda bahwa dia boleh untuk makan-minum pada siang hati. Atau penanda bebasnya kendali makan dan nafsu paska dikekang puasa? Atau penanda peroleh kemenangan? Atau penanda lebarnya dosa antar manusia dengan salaman?
 
Disinilah letak seseorang apakah mampu menemukan penanda yang bersifat parole, lebih private. Menemukan “makna” dari ritual olah spiritual puasa sebagai “penanda” penemuan jati diri manusia merdeka. Merdeka dari nafsu dan egoisme kepentingan sendiri untuk menyatu dalam syntagmatic keteraturan susunan ritual sosial dan spiritual. Manusia yang selesai dengan dirinya sendiri. Sekaligus menemukan makna terselubung dari makna puasa sebagai “penanda” teranugerahinya lailatul qadar yang paradigmatic. Sesuatu makna yang menyatu dan tersusun atas upaya manusia, kebeningan -kepekaan ruhanian dan kehendak Sang Maha Penggerak.
 
Lailatul Qadar adalah wujud semiotik-sentris -Ferdinand de Saussure, dari penemuan makna terselubung, antara mitos dan ideologi puasa dalam pencapaian puncak spiritual. Penemuan semiotic-sentris yang relative. Relativnya kepekaan setiap individu dalam menangkap “tanda” untuk diterjemahkan sebagai “penanda” yang bersifat polisemy atau berpotensi multi tafsir. Ada ambigu “penanda” tafsir dari ritual puasa yang mencadongkan lailatul qadar.
 
Mungkin makna yang dicari oleh para pencari “tanda” puasa dan lailatul qadar adalah perasaan Dominus Vobiscum atau Inna Allah Ma’ana, Tuhan bersamamu. Perasaan itu hanya akan hadir dari relung hati yang bening dan kepekaan spiritual yang terasah bertahun-tahun. Bukan perasaan ketika berada pada kondisi di titik nadir. Walau itu tak salah.
 
Dan aku tak menemukan perasaan itu, Pun tak kutemui  “tanda” sebagai “penanda” kebermaknaan puasaku. Apalagi kebermaknaan lailatul qadar. Aku hanya peroleh lapar dan haus dari sebulan menjalankan ibadah puasa di Ramadhan ini dan tahun-tahun sebelumnya. Sungguh aku hanya menggugurkan kewajiban. Bahkan untuk fiqih pun, puasa ku tak masuk kriteria. Aku tak memuasai puasaku seperti halnya nasehat KH Mustofa Bisri kepada dirinya.
 
Duhai Yang Maha Pengampun, untuk Mu aku tak melakukan puasa. Padahal, bisa jadi tak temukan lagi puasaku. Duhai Yang Maha Suci, aku tak mensucikan semua sahwatku,  seluruh anggota tubuhku, hatiku, aku tak berpuasa. Hanya menjaga mulut ini tak menyentuh sedapnya rasa, hingga datang waktu. Duhai Yang Maha Perasa, ku lalai untuk merasai rahmat Mu. Menghayati Mu dalam puasai hidup dan hakikat. Ku abaikan “penanda” Mu. Ampuni Kami, hambamu yang khilaf-lena pun hina-dina. Wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Kami mengharap kasih sayang-Mu, sayangilah Kami. Mohon maaf lahir bathin. (ER)
 
Oleh: Kang Marbawi, Jakarta, (04/05/22)