Berita

Belajar Memperkuat Persaudaraan dari Folklor Komodo

BY Humas . 22 Mei 2022 - 13:04

Labuan Bajo:- Tradisi lisan atau kerap disebut folklor merupakan salah satu tradisi yang hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia. Folklor adalah kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kebudayaan yang bersifat tradisional, tidak resmi, dan mencakup secara nasional.

Folklor yang mengandung cerita, mitos, legenda, dan dongeng, dan berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, menjadi salah satu kekuatan budaya Indonesia.

Melalui Folklor kita dapat mengetahui tentang kearifan lokal (local wisdom), sistem nilai, pengetahuan tradisional (local knowledge), sejarah, hukum, adat, pengobatan, sistem kepercayaan, religi, dan astrologi, serta berbagai hasil seni yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Folklor diceritakan dari mulut ke mulut dan secara turun -temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu contoh folklor adalah cerita rakyat seperti folklor komodo yang terdapat di Desa Komodo, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Folklor dari satu-satunya desa yang berada di Pulau Komodo tersebut bercerita tentang hubungan antara manusia dengan manusia lain dan manusia dengan makhluk di sekitarnya yang hidup hingga saat ini.

“Masyarakat Desa Komodo percaya bahwa manusia dan Komodo memiliki hubungan bersaudara karena awalnya mereka adalah saudara kembar.” ujar Tommy F Awuy , Dosen Filsafat Universitas Indonesia dalam sebuah perbincangan malam ini dengan penulis di sebuah pendopo di tepi pantai Labuan Bajo, Sabtu (21/05/2022).

Sambil mendengarkan debur ombak, Tommy pun yang juga pendiri Yayasan Komodo di Labuan Bajo pun bercerita bahwa di Desa Komodo terdapat legenda yang menceritakan riwayat keberadaan Komodo dan hubungan manusia dengan komodo.

Konon pada zaman dahulu kala, ada seorang putri yang hidup di Pulau Komodo dan kemudian menikah dengan seorang pemuda dari seberang pulau.

Tidak lama setelah menikah sang putri pun hamil. Suatu malam sang putri bermimpi mendapat pesan agar sang suami tidak membunuh ular ketika sedang berburu. Sang suami pun berjanji untuk mematuhi pesan tersebut. Namun karena suatu hal dan keterpaksaan, tanpa disengaja sang suami membunuh seekor ular besar saat sedang berburu.

Setelah tiba saatnya, sang putri pun akhirnya melahirkan putra kembar berjenis kelamin laki-laki. Namun yang mengagetkan adalah salah satunya memiliki bentuk berbeda, memiliki tubuh mirip seekor kadal tetapi berukuran bayi manusia. Sang putra tersebut memiliki dua kaki dan dua tangan tetapi berkepala mirip ular dan berekor yang juga mirip ular.

Sang putri dan suaminya kemudian memberi nama Orah untuk bayi yang mirip dengan kadal dan memberi nama Gerong untuk bayi yang normal.

Karena sering memangsa ternak milik warga, keberadaan Orang yang mirip kadal tersebut diprotes dan membuat malu sang putri dan suaminya. Orang pun kemudian terasingkan ke dalam hutan sementara Gerong diasuh sendiri oleh sang putri dan suami.

Seiring berjalan waktu yang berlalu, Gerong sudah tumbuh besar dengan tubuh gagah. Hingga suatu saat Gerong berburu rusa ia bertemu dengan kadal raksasa yang kemudian dikejarnya dan hendak dibunuhnya.

Namun, tiba-tiba sang putri dan peri penunggu hutan datang dan melarang untuk membunuh kadal raksasa yang saat ini dikenal sebagai Biawak Komodo atau Bahasa Latinnya Varatus Komodoensis Dengan naluri keibuannya, sang putri mengetahui bahwa kadal raksasa tersebut adalah Orah saudara kembar Gerong. Ia pun kemudian menjelaskan kepada Gerong bahwa kadal itu adalah saudara kembarnya yang bernama Orah.

Orah dan Gerong akhirnya berpelukan satu sama lain layaknya seorang saudara yang telah lama berpisah. Sejak saat itu masyarakat sekitar selalu memperlakukan komodo sebagai saudara. Itulah sedikit cerita legenda asal muasal Komodo bernama Orah dan menjadi hewan yang terjaga dengan baik hingga saat ini oleh masyarakat setempat.

Diceritakan oleh Tommy bahwa merupakan hal yang biasa di Pulau Komodo menyaksikan warga masyarakat berinteraksi dengan komodo dengan penuh keharmonisan tanpa saling ganggu. Jarang sekali terdengar berita ada komodo yang memangsa manusia.

Sebagai seorang dosen filsafat, yang bersama para dosen Universitas Indonesia lainnya pernah melakukan pendampingan warga di Pulau Komodo, Tommy memandang bahwa hubungan antara manusia dan Komodo yang harmonis layaknya saudara menunjukkan bagaimana tingginya budaya masyarakat Desa Komodo dalam menjalin interaksi dengan sesama manusia maupun dengan lingkungannya, bahkan dengan menganggap komodo sebagai saudara kembar.

Sebagaimana diketahui, saudara kembar memiliki hubungan yang spesial sejak di dalam kandungan. Seiring pertumbuhannya, secara tidak sadar saudara kembar membangun ikatan batin yang kian lama semakin kuat. Kita sering mendapatkan beberapa saudara kembar menyukai kegiatan yang sama, gaya pakaian yang sama, jenis makanan yang sama, dan memiliki selera humor yang sama. Secara alami, hal ini terjadi karena mereka berdua menghabiskan banyak waktu bersama dan sangat terlibat dalam kehidupan satu sama lain.

“Sebagai seorang dosen, saya memang belum menulis buku kisah legenda tentang Komodo. Namun sebagai seniman dan budayawan, saya telah menciptakan tarian Komodo dalam kegiatan pendampingan kegiatan warga dalam menciptakan atraksi wisata budaya,” ujar Tommy.

“Melalui tarian komodo digambarkan bagaimana keyakinan masyarakat setempat terhadap hubungan mereka dengan hewan komodo,” ujar Tommy kemudian.

“Bukankah hubungan antara manusia dan Komodo mencerminkan nilai-nilai dasar Pancasila yang digagas para pendiri bangsa Indonesia yaitu kerukunan dan hidup yang harmonis meskipun berbeda satu sama lain?, tanya Tommy.

Ia pun kemudian menjawab sendiri pertanyaannya, “Dari kearifan lokal dan pengetahuan tradisional masyarakat Desa Komodo terlihat bahwa meski setiap individu memiliki perbedaan, namun tetap dapat hidup bersatu dengan tidak memandang adanya perbedaan-perbedaan antar individu.”

“Dari legenda tersebut terlihat sekali adanya sikap untuk menenggang pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Hal ini yang tampak menjadi tantangan masyarakat Indonesia sekarang ini,” tambahnya.

“Nampak mudah untuk menghormati, menghargai atau menerima perbedaan-perbedaan yang ada di Indonesia, namun ternyata sangat sulit untuk dilakukan terutama saat sekarang ini. banyak perkara-perkara yang telah terjadi diakibatkan dari perbedaan-perbedaan tersebut yang berujung dengan kebencian, saling menjatuhkan individu yang berbeda dan meninggikan individu sendiri, dan sebagainya,” ujarnya menutup perbincangan sebelum kami meninggalkan pendopo. (AHU)

Labuan Bajo, 22 Mei 2022