Berita

Kepala BPIP Bekali Calon-Calon Perwira Tinggi Polri Dengan Pemahaman Perkuat NKRI

BY Humas . 16 Mei 2022 - 13:35

Bandung:- Sebagai calon-calon pemimpin yang secara konkrit dihadapkan dengan tantangan isu-isu keamanan/ketertiban sosial dan keamanan nasional, para peserta Sekolah Staf dan Pimpinan TInggi (Sespimti) diharapkan memiliki keterampilan dan pemahaman komprehensif tentang manajemen pengelolaan negara (statecraft). Skill dan knowledge ini terutama dibutuhkan terkait dengan ideologi negara, tantangan keberagaman, dan berbagai aspek sosio-historis yang melingkupinya. 
 
Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, Prof Yudian Wahyudi, di depan tidak kurang 121 orang peserta Sespimti Polri Dikreg 31 T.A. 2022, yang diselenggarakan di Lembang, Bandung, (12/5). Sespimti merupakan tahapan yang lazim ditempuh untuk promosi sebagai Perwira Tinggi di lingkungan Polri.
 
Pemahaman aspek sosio-historis Pancasila yang dimaksudkan oleh Prof. Yudian disini melingkupi peristiwa proses Perumusan Pancasila, konsensus-konsensus yang diambil oleh para pendiri bangsa dari dialog-dialog, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada kita, yang relevan untuk membangun karakter bangsa.
 
"Bukan hanya mempelajari dan memahami proses-proses tersebut sebagai peristiwa sosio-historis semata, tetapi juga mengambil hikmah dan pelajaran, bagaimana para pendiri bangsa menggunakan berbagai pertimbangan yang matang dan strategis tanpa meninggalkan pendekatan spiritual untuk merumuskan Pancasila", tegas Prof. Yudian kepada seluruh peserta didik. Dengan pemahaman yang komprehensif seperti itu tidak akan ada pemikiran bahwa Pancasila bertentangan dengan nilai-nilai agama.
 
Guru Besar Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga ini juga menjelaskan bahwa proses perumusan Pancasila, juga bisa menjadi rujukan nilai untuk mengembangkan karakter kepemimpinan. Proses-proses ini merepresentasikan karakter kepemimpinan spasial-historis. Karakter kepemimpinan yang menekankan pentingnya kesadaran akan ruang dan waktu kita berkembang, bekerja, dan mengabdi.
 
Dalam kesempatan ini, Prof. Yudian juga mendorong peserta didik untuk peka dan sadar terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. "Saat ini, kita menghadapi banyak tantangan baik dari internal maupun eksternal, seperti menguatnya gerakan ekstrimisme dan ideologi transnasional, naiknya tensi geopolitik global, dan tantangan lain seperti kemiskinan, kesenjangan dan sebagainya". 
 
Sejalan dengan hal tersebut, visiting professor Harvard Law School ini menekankan pentingnya bela negara dan gerakan revolusi mental. "Bela negara untuk meningkatkan rasa memiliki dan cinta tanah air, revolusi mental untuk membangun SDM Indonesia unggul", tambahnya.
 
Di akhir sesi kuliahnya, kepala BPIP juga menyampaikan perlunya sinergitas BPIP-Polri, untuk menunjang kerja-kerja pembinaan Ideologi Pancasila. Keduanya memiliki irisan tugas dan fungsi dalam menjaga dan menegakkan Pancasila sebagai Ideologi dan dasar negara. Harapannya, sinergitas ini dapat menunjang tercapainya SDM Indonesia unggul, yang berintegritas, memiliki etos kerja tinggi dan memiliki karakter gotong royong.
 
Tampak hadir mendampingi Prof. Yudian dalam kegiatan ini, Direktur Pengkajian Materi BPIP, Aris Heru Utomo, S.H., MBA., M.Si., dan Plt. Direktur Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan BPIP, Dr. Mahnan Marbawi, M.A. (*/FAW)