Berita

Pojokan 96, Gamelan

BY Humas . 28 April 2022 - 13:18

Jakarta:- “Dengan gamelan itu ia hidup di jaman kegemilangan nenek moyangnya, sedang dengan musik Barat ia hidup di jaman keyatimpiatuan modern di masa-masa mendatang”
 
Gumaman lirih Kartini tersebut disampaikan dalam surat kepada Estella Zeehandelaar. Kita tidak tahu, gumaman lirih yang ditulis Kartini kepada Estella, ditujukan untuk musik Barat yang mana? Apakah yang klasik atau yang bukan klasik.
 
Terlepas dari itu, ada sikap ideologis dari Kartini terhadap warisan budaya leluhur, Gamelan. Dan sebuah kritik terhadap sesautu yang dianggap modernitas (baca musik Barat) yang dianggap asing dalam konteks budaya Jawa. Diksi “yatimpiatu” yang dimaksudkan kepada musik Barat, lebih kepada keterasingan Kartini ditengah budaya kolonial yang menghegemoni budaya Bangsa Indonesia. Pun, hegemoni intelektual akademik yang juga masih terjadi hingga saat ini.
 
Gamelan dan juga musik-musik tradisional lainnya, bagi Kartini adalah representasi dari sejarah panjang budaya dan intelektual estetis sebuah bangsa. Warisan budaya seni adi luhung yang berakar terhadap sejarah, perjalanan spiritual dan sosial sebuah masyarakat.
 
Bagi Kartini, gamelan tidak pernah bersorak-sorai, sekalipun di dalam pesta yang paling gilapun. Dia terdengar sayu dalam nyanyiannya, mungkin begitulah seharusnya. “Kesayuan itulah hidup, bukan nyanyi bersorak-sorai!” Bukan budaya selera rendah!
 
Produk budaya yang cepat lekang oleh waktu, menunjukkan produk budaya tersebut dalam proses kreatifnya tak berbalut spirit hidup, renungan spiritual dan sosial. Hanya memanjakan selera pasar.
 
“Aku terkenang pada suatu malam belum lama berselang. Seorang kenalan membawa kami berdua mengunjungi sebuah konserta di gedung kesenian di Semarang. Itulah buat pertama kali dalam seluruh hidup kami, bahwa kami berdua, tanpa membawa si adik, tanpa Ayah, tanpa Ibu, berada di tengah-tengah lautan manusia. Kami berasa sendiri, sangat sendirian di antara orang-orang yang sama sekali tidak kami kenal. Dan tiba-tiba kami berpikir: Beginilah bakalnya hidup kita di kemudian hari! Kita hidup seorang diri di tengah-tengah lautan kehidupan yang besar!” tulis Kartini dalam suratnya kepada Estella Zeehandelaar.
 
Surat itu disampaikan setelah Kartini mendampingi ayahnya Bupati Jepara -Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, menyambut Gubernur Jenderal Willem Roosebom di Hotel Du Pavillon. Hotel terbaik di Semarang tahun 1847 itu dikagumi Kartini, yang digambarkan bak istana di negeri dongeng. Kekaguman yang ditulisnya di Majalah Ee Echo tahun 1899.
 
Kartini berpikir futuristik terkait kehidupan dikemudian hari, dimana akan ada dominasi budaya Barat. Pengalaman mendengarkan musik Barat secara naluriah membawa Kartini pada ruang waktu yang berbeda. Dan di dalam ruang waktu itu kembali ia temukan rakyatnya, bangsanya dan negerinya. Yang terdefinisikan dalam “Gamelan” sebagai budaya adi luhung versus musik Barat. Tentu musik-musik daerah lain yang memiliki proses kreatif spiritual dan pemaknaan akan kehidupan.
 
Gamelan menyebabkan tubuhnya tertarik untuk bergerak dan hanya dengan kekerasan saja ia tidak dapat tolak kekuasaannya. “Gamelan itu, menuangkan arus api ke dalam nadi-nadi kami ...“ Surat Kartini, 20 Agustus 1902, kepada Nyonya Nelly Van Kol. Nellie van Kol (1851-1930), istri pimpinan Partai Buruh Sosialis Demokrat Henri van Kol (1852-1925) yang juga anggota parlemen Belanda. Nellie sempat tinggal di Jawa pada 1880-an. Ia juga salah satu tokoh berpengaruh dalam gerakan feminis Belanda.
 
Estella adalah sahabat pena Kartini, setelah membaca iklan yang dipasang oleh Kartini di majalah  Belanda De Hollandsche Lelie. Pada usia 20 tahun, Kartini memasang iklan di majalah Belanda, De Hollandsche Lelie, untuk mengetahui tentang pergerakan dan gagasan perempuan di Eropa. Sahabat pena lainnya adalah istri Jazques Henris Abendanon - Menteri Pendidikan, Agama dan Industri Hindia Belanda tahun 1900-1904, Rosa Manuela Abendanon. Ny. Abendanon intens berkomunikasi dengan Kartini selama berada di Hindia Belanda.
 
Diusianya dan dizamannya, Kartini betul-betul telah berpikiran maju dan independent namun juga gamang. Gumaman soal gamelan dan diksi dalam suratnya “Kita hidup seorang diri di tengah-tengah lautan kehidupan yang besar!” menunjukkan sebuah sikap gamang. Kegamangan akan kelangsungan jati diri budaya bangsa di tengah arus besar budaya global.
 
Surat-surat Kartini menunjukkan sebuah sikap yang dikemudian hari, diteorisasi oleh Ki Hajar Dewantoro sebagai teori Trikon. Kartini mampu menunjukkan sebuah sikap untuk mempromosikan dan melestarikan budaya Jawa yang adi luhung (kontinue) dan mengembangkan budaya Jawa (konvergen) untuk kemudian mampu berdialog dengan budaya Barat (konsentris) dengan setara tanpa kehilangan akar budaya. Melahirkan kreatifitas dan daya kritis baru.
 
Pantas kemudian Jazques Henris Abendanon, memberikan apresiasi kepada Kartini. Bersama dengan C.Th. van Deventer mendirikan Yayasan Kartini di Belanda tahun 1910. Tidak hanya itu, surat-surat Kartini diterbitkan dengan judul “Door Duisternis Tot Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang” tahun 1911. Buku itu menjadi best seller dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, Inggris (1926), Arab, Jepang (1955) dan Prancis (1960). Surat-surat Kartini ini juga diterbitkan dalam terjemahan bahasa Sunda, yang diterjemahkan oleh R. Sutjibrata (1930), dan versi bahasa Jawa yang diterjemahkan oleh Ki Sastrasuganda yang diterbitkan pada 1938.
 
Surat-surat Kartini menjadi bagian dari dialog budaya Timur dan Barat yang setara. Ada kesadaran akan pentingnya menjaga dan mendialogkan budaya Timur dan Barat, juga kesadaran akan ekspansi budaya. Jauh sebelum Samuel Hutington menerbitkan The Class of Civilizations -benturan budaya tahun 1992. Tidak hanya itu, Kartini menunjukkan sebuah sikap yang tidak culture shock berhadapan dengan budaya Barat-Belanda. Kungkungan budaya saja yang menyebabkan Kartini tak mengenyam langsung pendidikan di Belanda.
 
Sikap independent dan percaya diri sebagai seorang perempuan dari Hindia Belanda, ditunjukkan olek Kartini dalam suratnya kepada Stella, dan menjadi suratnya yang paling popular.
 
Saya ingin berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri... yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia.” (Surat Kartini kepada Stella H. Zeehandelaar, 25 Mei 1899).
 
Sebuah sikap percaya diri, cerdas dan juga humanis. Kartini tidak egois hanya memikirkan diri sendiri. Pada zaman Kartini, perempuan tak memiliki kemerdekaan atas diri dan masa depannya. Apalagi untuk memerjuangkan orang lain. Tapi tidak dengan Kartini. Seperti juga Laksamana Malahayati, perempuan Aceh yang mengalahkan armada Cornelis De Houtman. Atau Martha Christina Tiahahu (4 Januari 1800 – 2 Januari 1818), seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut-Maluku yang memilih melawan kolonial Belanda. Marta C Thiahahu berusia 17 tahun ketika memimpin perlawanan.
 
Ketika sebuah hasrat menjadi ide, dan ide menyatu dengan badan, dan semuanya menyatu dengan sesuatu yang sakral dan sosial. Melahirkan perlawanan. Kartini, Malahayati, Martha.C. Tiahahu adalah manusia yang merdeka dan memiliki spirit perlawanan dengan caranya masing-masing. Juga berjuta perempuan Indonesia dulu hingga kini.
 
Oleh: Kang Marbawi, Jakarta, (28/04/22)