Berita

Perkokoh Karakter Anak Bangsa, BPIP Rancang Modul Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila

BY Humas . 25 April 2022 - 18:18

Jawa Barat:- Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) melaksanakan Reviu I Rancangan Modul Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila di Bogor, Jawa Barat Senin, (25/4). Hal tersebut dalam upaya memperkokoh karakter anak bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dalam berkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  
 
Reviu I dengan metode diskusi tersebut diharapkan dapat bersama-sama bergotong royong membantu dalam penyusunan modul Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila.
 
“Kami berharap masukan dari para narasumber bisa memberikan penguatan terhadap modul yang sedang kami kami susun ini”, ucap Deputi Bidang Pendidikan dan Pelatihan Dr. Baby Siti Salamah M.Psi Psikolog saat membuka acara.
 
Menurutnya pertemuan FGD pertama pada minggu lalu telah dilakukan tataran diskusi bagaimana format dan sistematika modul yang sesuai dengan segmentasi diantaranya ASN, TNI, POLRI, Orsospol, Komponen Masyarakat Lain dan Paskibraka.
 
“Modul ini bersifat self learning, tentu modul ini harus mudah untuk dipahami dan diimplementasikan oleh penggunanya”, ujarnya.
 
Ia juga menjelaskan modul tersebut tidak lepas dari Peraturan Badan Nomor 02 Tahun 2020 tentang Pendidikan dan Pelatihan PIP.
 
“Selain perban nomor 2 tersebut, beberapa produk yang dihasilkan oleh Direktorat Standarisasi dan Kurikulum Diklat perlu menjadi referensi. Sebab penyusunan modul harus dimulai dari standar kurikulum lebih dahulu”, paparnya.
 
Dalam kesempatan yang sama Pelaksana Tugas Direktur Pelaksana Pendidikan dan Pelatihan BPIP Dr. Mahnan Marbawi, M.A mengaku modul tersebut sangat penting bagi proses pelaksanaan diklat Pembinaan Ideologi Pancasila pola 32 jam yang merujuk kepada Perban Nomor 002 tahun 2020.
 
“Karena itu, kami berharap dalam reviu pertama penyusunan modul ini bisa lebih spesifik dalam substansi sesuai dengan karakteristik segmentasinya”, ujarnya.
 
Ia juga mengaku modul tersebut bersifat rujukan utama bagi semua segmentasi namun, memiliki perbedaan seperti pada metode dan pendekatan pendidikan dan pelatihannya.
 
“Sebagai contoh pendekatan pada ASN yang memiliki tugas pelayanan, pelaksanaan dan perekat bangsa berbeda dengan pendekatan pada segmen lainnya”, jelasnya.
 
Dirinya berharap dengan dilaksanakannya reviu ini dapat menguatkan penyusunan modul tersebut terutama pada metode dan pendekatan diklat, media diklat, bahan tayang, bahan bacaan, bahan permainan yang harus dikembangkan dan dibuat sesuai dengan materi dasar.
 
“Selain itu juga dapat mengevaluasi yang terukur dan bagaimana modul ini mudah diintegrasikan dalam learning management system diklat”, tutupnya.
 
Salah satu narasumber Ken Setiawan menegaskan sangat diperlukan modul pendidikan dan pelatihan pembinaan ideologi Pancasila sebagai dasar. Ia mengkhawatirkan adanya materi-materi pendidikan dan pelatihan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
 
“Saya kira modul ini sangat penting bagi BPIP sebagai pembentukan karakter anak bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila”, tegasnya. 
 
Ia bahkan bersyukur dan mengapresiasi BPIP dengan perjuangannya telah membuahkan hasil yakni direalisasikannya kurikulum pendidikan Pancasila yang akan diimplementasikan pada bulan juli tahun ini.
 
“Berbicara Pancasila sangat menarik, perjuangan BPIP membuahkan hasil dengan adanya kurikulum pendidikan Pancasila yang akan diterapkan di bulan juli ini”, ujarnya.
 
Ia juga mengakui ancaman-ancaman yang melawan negara dan bertentangan dengan ideologi Pancasila masih mengelilingi lingkungan sekitar masyarakat Indonesia.
 
“Masyarakat kita terkadang tidak tahu ancaman-ancaman yang mengepung disekeliling kita”, ucapnya.
 
Founder (NII) Crisis Center ini bahkan mengakui tidak hanya masyarakat sipil yang banyak terpapar tetapi mahasiswa, PNS, TNI dan POLRI banyak yang sudah terpapar anti Pancasila dan NKRI bahkan radikalisme.
 
“Ini banyak sekali faktornya salah satunya adalah karena tidak adanya kepercayaan kepada Pemerintah”, ujarnya. 
 
Tidak hanya itu ia juga menjelaskan ancaman bagi Pancasila adalah melalui berbagai hal seperti narkoba, proxy war dan budaya-budaya luar yang mempengaruhi untuk merusak ideologi-ideologi dan karakter anak-anak bangsa. (ER)