Berita

Pojokan 95, Bucha

BY Humas . 22 April 2022 - 11:25

Jakarta:- Bucha, kota berpenduduk 36.971 jiwa ini, kini lengang. Kota yang dibangun tahun 1898 berada di wilayah administrasi Provinsi Kyiv Oblast, menjadi salah satu saksi sejarah terbentuknya negara Ukraina. Sebab di kota ini lah pertama kali markas 1st Ukraina Front berada selama perang dunia kedua. Kini, Bucha menjadi front terdepan perang Rusia-Ukraina. Meninggalkan puing kehancuran, gelimpang mayat hangus atau tertembak.
 
Bucha! Adalah kegetiran ironi, tak peri kemanusiaan. Bahkan ada yang lebih lagi. Seperti Hutu-Tutsi. Juga Rakhine. Di Bucha, entah siapa yang menanggung jawab dan dosa. Semua berlindung atas nama sepihak. Sebagaimana ingin selamatnya para korban yang tak berdaya, dan akhirnya bersimbah darah. Entah dengan cara apa. Yang sepihak ini adalah pemenang pembantai dan seolah sah argument kekuasaannya melawan peri kemanusiaan.
 
Bucha, Hutu-Tutsi, Rakhine dan berbagai killing field lain adalah sejarah tak peri kemanusiaan. Seolah sejarah adalah foto copy yang diulang kembali dalam fragment yang berbeda waktu dan tempat. Namun substansinya sama, tak peri kemanusiaan. Kekerasan seolah menjadi aksesoris utama dari kekuasaan. Bahkan kekuasaan menjadikan kekerasan sebagai jalan untuk mewujudkan “damai”.  Entah untuk siapa damai itu.
 
Kadang kekerasan itu dibalut dengan dalil. Sebagai justifikasi. Entah dalil dari agama atau keserakahan kekuasaan. Yang menjadikan pelaku merasa benar dengan laku kekerasannya. Pun menjadi ideologi untuk melakukan kekerasan. Entah dengan justifikasi ketakutan, penindasan, prasangka dan kebencian.Padahal agama, tak satupun mengajarkan kekerasan.
 
Bucha, Rakhine adalah fragment tragedi kemanusiaan dijaman modern. Kemanusiaan yang dibanyak tempat dijadikan jargon perlindungan utama. Namun di Bucha atau Rakhine, kemanusiaan adalah sampah. Tak berarti dihadapan kekuasaan, prasangka, dan kebencian. kekerasan menjadi ideologi. Ironi kemanusiaan lahir dari kebebalan nurani. Pun keserakahan dan kekuasaan.  Ajaran damai agama, teronggok di pojok.
 
Tak hanya Bucha atau Rakhine atau killing filed di berbagai belahan dunia, kekerasan selalu hadir dalam setiap elegi kehidupan. Yang berbeda adalah intensitas dan volume serta bentuknya. Namun selalu ada. Bisa jadi, kehidupan itu sendiri yang membuat pelakon kehidupan dituntut untuk menghadapi dan harus keras.  Keras dalam spirit dan upaya untuk menghadirkan cita serta harmoni. Pun keras dalam arti fisik.
 
Bucha adalah korban. Entah korban siapa. Semua menghindar dari tanggungjawab. Sebab dunia menyoroti. Walau bias media berpihak kepada yang mayoritas. Namun Bucha adalah lanskap yang berbeda dengan Rakhine atau Palestine. Rakhine adalah minoritas yang tak seksi. Palestine adalah luka primordial yang timpang. Bucha adalah pertarungan adi kuasa global. Banyak kepentingan, modal, ekonomi dunia dan pertaruhan marwah bangsa. Juga dagang senjata.
 
Ketakutan menjadi dasarnya, melahirkan agresi. Kita menolak agresi. Agresi yang menginjak kedaulatan. Dan itu wajib dihadapi dengan sikap patriotism. Pun jiwa, raga dan harta akan mengikuti. Agresi adalah alat tirani. Tirani kekuasaan yang berbasis kepada ketakutan.
 
Dan kita pun memiliki ketakutan. Namun tak selalu melahirkan agresi. Justru ketakutan melahirkan spirit, kerja keras untuk bersama membangun harmoni.  Dalam sebuah lingkup konstitusi yang menghargai dan melindungi kemanusiaan. Dengan landasan keadilan untuk melahirkan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Tidak untuk mengolonisasi atau menguasai. Apalagi mengasari sesama. Spirit membangun keadilan, kesejahteraan adalah jalan Pancasila. (ER)
 
Oleh: Kang Marbawi, (21/04/22)