Berita

Pojokan 94, Nak!

BY Humas . 22 April 2022 - 11:17

Jakarta:- “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka, bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian,” Ali Bin Abi Thalib

***

Nak, dulu ayahmu ini, ketika masih orok, dibebat dengan otto dan bedong kain. Agar hangat dan kakinya lurus, begitu kata orang tua. Walau itu menurut kedokteran anak sekarang, kurang tepat. Dulu ayahmu ini belajar berjalan menggunakan patok bambu yang diberi pegangan dan bisa berputar. Dulu ayahmu ini bermain kuda-kudaan dan perang-perangan dari pelepah pisang, atau membuat mobil-mobilan dari kulit buah jeruk Bali atau dari bekas papan kayu atau dari kardus bekas makanan atau dari bekas kaleng susu kental.

 

Dulu ayahmu nonton tv hitam putih di rumah tetangga. Karena jarang yang memilikinya. Hanya orang-orang tertentu saja yang punya. Dulu ayahmu ini, bermain di sungai, setelah ikut “angon” kerbau punya tetangga. Atau bermain “Sodor”, permainan menjaga garis demarkasi berbentuk jalur bujur sangkar. Permainan nasionalisme sederhana mempertahankan teritorial ketika jaga. Dan adu kelihaian menerobos teritori lawan tanpa terkena sentuhan tangan penjaga garis teritori atau bulldozer lawan, yang berada di garis katolistiwanya permainan “Sodor”. Atau “Bentengan”, permainan yang mencoba menembus lawan agar bisa menginjak sepotong batu bata sebagai simbol pertahanan masing-masing. Atau mencari kayu bakar dan “ngangsu”, menimba air sumur untuk mandi dan minum. Dan tentu permainan tradisional lainnya yang ayah yakin, pasti tak dikenal, anak-anak sekarang.

 

Nak, kamu baru seminggu lalu “dikeluarkan” dari rahim ibumu. Ayahmu menemani ibumu. Kamu tak keluar alamiah melalui persalinan yang mendakukan pengorbanan nyawa ibumu. Namun tetap saja, menyisakan nyeri dan darah ibumu yang tak selesai dalam waktu satu bulan. Dan ibu-ayahmu ini sangat bahagia dengan kelahiranmu. Juga saudaramu dan handaitaulan.

 

Ayahmu tak tahu, permainan apa yang akan kamu mainkan nanti, manakala kamu menginjak usia balita. Sebab saat dalam kandungan saja kamu sudah diperdengarkan musik dan lantunan kalam suci dari perangkat gadget. Sebelum lahirpun kamu sudah bersentuhan dengan teknologi. Dan apakah nanti teknologi artificial intelligence (AI) yang akan menjadi pengasuh dan pembentukmu? Ayah tak tahu. Sebab ayah mungkin akan bertemu kamu sepulang kerja atau kala libur. Mungkin kamu akan banyak dengan ibumu dan gadget. Ayah ingat penggalan puisi Kahlil Gibran

“Anakmu bukan milikmu!

………

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

Yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian”

……..

Begitu kata Kahlil Gibran.

 

Bisa jadi betul apa kata Kahlil, kau akan menjadi milik masa depan. Ayahpun tak sanggup untuk mereka-reka seperti apa masa yang akan kau arungi di masa depan. Bahkan tidak dalam impian ayahmu ini.

 

Harapan ayah tentangmu sederhana. Kamu sehat dan selamat, bahagia, bisa mengenyam pendidikan dalam lanskap akademik global, bener dan pener, jujur, berbakti kepada ayah-ibumu, rukun dengan saudara-saudaramu, empati dan peka dengan lingkungan dimanapun kamu berada, panjang umur, solih, menjalankan ajaran agama dengan khusu’, humanis, berbudaya, beradab dan tak simbolis dimanapun, kapanpun dan dengan dengan siapapun. Kamu terbuka. Hidupmu berkah. Seperti doa harapan yang tersemat dinamamu, Batsa Alvaronizam Sabiq. Itu saja nak.

 

Ayah tak akan menuntut kamu harus jadi apa, apalagi jadi seperti ayah. Ayah hanya akan berusaha menemanimu dan saudara-saudaramu, mensuport semaksimal mungkin bahkan melebihi yang ayah mampu. Di masa-masamu dan masa saudara-saudaramu, sesuai masa waktu ayah.

 

“Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun jangan membuat mereka menyerupaimu, sebab kehidupan

Tidak pernah berjalan mundur.

Pun tidak tenggelam di masa lampau”

 

Kamu akan menemukan sendiri masamu, kuru setramu, surgamu, tujuanmu. Ayah hanya akan mengantarkan dan menyiapkanmu, seperti busur. Agar kamu tangguh, tabah, ulet, dan sabar. Kamu adalah anak panah yang akan meluncur jauh menembus cakrawala.

 

“Kaulah busur, anak-anakmulah anak panah yang meluncur.

Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat jauh dengan cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan

Sang Pemurah,

Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat.

Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang manta”

 

Namun ayah dan ibumu berjanji, akan membesarkanmu dan saudara-saudaramu dalam puisi Dorothy Law Nolthe:

 

Kamu dan saudara-saudaramu, ayah besarkan dengan toleransi, dorongan, pujian, sebaik-baiknya perlakuan, rasa aman, dukungan, kasih sayang dan persahabatan. Hanya itu. Dan semoga Allah, Tuhan Yang Maha Esa merahmatimu dan merahmati keluarga ini. (ER)

 

Oleh: Kang Marbawi, (13/04/22)