Berita

62 Tahun Mengabdi, Dari Santri jadi Kepala BPIP RI

BY Humas . 20 April 2022 - 15:31

DIY:- Tepat hari ini, 17 April 2022 salah satu santri berprestasi dari Perguruan Islam Pondok Tremas, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D berulang tahun yang ke-62 tahun bertepatan dengan Hari lahir salah satu organisasi pemuda Indonesia yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang lahir pada tanggal 17 April 1960 sama seperti hari lahir Prof. Yudian.

Prof. Yudian dikenal sebagai dosen pertama dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat. Prestasi tersebut diperolehnya setelah menyelesaikan studi Master dan Doktoralnya di McGill University, Montreal, Kanada. Selain menembus Harvard Law School, ia juga berhasil menjadi profesor  di Amerika dan ditetapkan sebagai anggota American Association of University Professors dan dipercaya mengajar di Tufts University, Amerika Serikat.

 

Keberhasilannya dalam karir akademik tidak pernah membuatnya puas dalam melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar akademik, salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat. Pada tanggal 5 Februari 2020, Prof. Yudian dilantik menjadi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia yang memiliki fungsi dalam membumikan serta mensosialisasikan Pancasila kepada masyarakat.

 

Tugas yang dilakukan Prof. Yudian bukan sesuatu yang mudah, karena menghimpun berbagai pemikiran dan membentuk sebuah diskursus yang aktif dalam menterjemahkan serta mengaktualisasikan Pancasila di kehidupan sehari-hari.

 

Sebagai tokoh bangsa, tidak jarang perjalanan karir Prof. Yudian kerap menghadapi tantangan salah satu yang diungkapkannya adalah pernah menjadi kernet bus hingga pedagang kerupuk. Semua itu dilaluinya sejak dibangku sekolah hingga kuliah agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dalam mencari ilmu pengetahuan. Selain itu, untuk mendukung minat keilmuannya ia juga aktif dalam menerjemahkan buku-buku bahasa asing ke bahasa Indonesia sejak muda, total 40 buku bahasa Arab, 13 bahasa Inggris, dan 2 buku bahasa Perancis diterjemahkannya.

 

Aktivitas penerjemahan itulah yang membawanya menjadi salah satu akademisi yang diakui kredibilitasnya dalam tulisan dan ilmu Fiqihnya, pasalnya tulisan-tulisannya telah diterbitkan oleh Jurnal internasional seperti Oxford University Press.

 

Sebagai sosok akademisi, pemikir, aktivis, hingga Kyai tidak membuatnya larut dalam kepuasaan. Karakter perjuangan dan pengabdian selalu ia tularkan di sela-sela pidatonya. Tepat pada hari ulang tahunnya ini, ia kemudian menginisiasi gerakan penyaluran amal ke berbagai organisasi masyarakat yang terdiri dari Daycare Hubbul Wathon, Komunitas Sekolah Marjinal (KSM), Pusat Layanan Disabilitas UIN Sunan Kalijaga, Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di Tempel dan Piyungan, Komunitas Pemuda Pecinta Sastra Indonesia Warga Bantul korban gempa 2006, Pusat Pembelajaran Perempuan dan Anak Kulon Progo, dan LKP3A (Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak). Dari total gerakan yang diinisiasinya terkumpul peralatan kesehatan dan perlengkapan belajar yang siap disalurkan melalui komunitas-komunitas tersebut.

 

Gerakan aktivisme di hari ulang tahunnya ini sekaligus menunjukkan bahwa Prof. Yudian adalah tokoh bangsa yang selalu semangat mendorong nilai-nilai kebersamaan, kesetaraan, keadilan, gotong royong, kemanusiaan agar terus tumbuh dan terus dirawat di tengah-tengah modernisasi yang ada di Indonesia. (WAFI)